Sabtu, 01 Oktober 2016

PERIODISASI SASTRA INDONESIA: Mengetahui Perubahan Sastra Indonesia Dari Masa ke Masa

Berbicara mengenai periodisasi sastra Indonesia berarti kita bicara mengenai perkembangan sastra dari suatu masa hingga masa tertentu. Dan juga mengulas tentang para tokoh sastra yang berperan pada masanya, karya sastra yang mereka cipta, hingga segala peristiwa yang mempengaruhi perkembangan sastra Indonesia.

Sastra Indonesia mengalami perubahan dan perkembangan dengan tahapan waktu yang beragam. Perubahan dan perkembangan itu sendiri terpengaruh oleh banyak hal. Tapi yang paling mempengaruhi adalah teknologi dan manusianya.

Kebiasaan atau tradisi (budaya) yang berlaku pada sekelompok masyarakat yang terus mengalami perubahan, kemudian turut memaksa perubahan terhadap sastra itu sendiri. Karena bagaimana pun juga sastra punya kaitan erat dengan budaya. Dan budaya hanya manusia yang menjalankannya. 


Periodisasi Sastra Indonesia dikelompokkan pada beberapa angkatan. Adapun yang dimaksud dengan angkatan adalah usaha terhadap pengelompokan sastra dari suatu masa hingga masa tertentu. Pengelompokan tersebut juga dilakukan berdasarkan ciri karya sastra dan keadaan masyarakat pada masa tersebut.

Ada beberapa angkatan sastra yang akan dibahas dibawah ini. Tapi sebelumnya mari lihat tabel dibawah yang memaparkan singkat tentang Periodisasi Sastra Indonesia.

Dengan tabel dibawah ini mudah-mudahan teman-teman bisa sedikit lebih mudah mengingat perjalanan waktu dari setiap angkatan dan membandingkan ciri khas dari setiap angkatan.



 

Dengan adanya pergantian angkatan sastra. Karya-karya sastra yang dicipta pun menjadi nampak beragam dengan cirinya masing-masing. Tak hanya itu, angkatan-angkatan tersebut juga membawa sastra Indonesia pada nilai-nilai yang lebih baik dan sempurna.

Namun, bukan berarti sastra pada angkatan-angkatan sebelumnya tidak sempurna. Hanya saja, nilai-nilai yang terkandung pada karya sastra selalu menunjukkan nilai-nilai yang hidup pada masyarakat masa itu. Maka, ketika nilai-nilai kehidupan masyarakat telah menuju pada perubahan, sastra turut mengikutinya.

Segala perubahan yang terjadi pada masyarakat ditunjukkan melalui sastra. Maka dengan sastra kita bisa mengetahui keadaan masyarakat pada masa hidupnya kesusastraan tersebut.

Terkadang pada waktu tertentu, sastra juga mampu mempengaruhi perubahan keadaan masyarakat. Pada beberapa angkatan sastra Indonesia hal tersebut juga pernah terjadi.
 

Sekarang mari kita ulas satu persatu mengenai Periodisasi Sastra Indonesia. Dalam pembahasan mengenai periodisasi sastra ini, akan menyinggung sedikit mengenai beberapa sejarah penting. Karena beberapa sejarah tersebut punya keterkaitan dengan kesusastraan Indonesia.
 


1. Angkatan Pujangga Lama
Angkatan Pujangga Lama bisa dibilang merupakan angkatan pelopor munculnya kesusastraan Indonesia. Pada angkatan ini kesusastraan Indonesia masih menggunakan Bahasa Melayu. Bahasa Melayu sendiri merupakan cikal bakal lahirnya Bahasa Indonesia.

Selain itu, pada masa angkatan ini Indonesia masih terdiri dari berbagai kerajaan. Dan belum membentuk negara kesatuan. Maka bahasa Indonesia pun belum dikukuhkan sebagai bahasa kesatuan.

Bahasa Indonesia baru diresmikan pada tanggal 28 Oktober 1928. Sedangkan angkatan pujangga lama telah ada sebelum abad ke-20. Maka, jelas saja setiap daerah yang ada di Indonesia dahulu punya hasil karya sastra dengan jenis tulisannya masing-masing yang bukan abjad resmi Bahasa Indonesia. Seperti Aceh yang hampir mayoritas bertuliskan Arab-Melayu, dan Jawa dengan Aksara Kawi (Aksara Hanacaraka).
 

Pada masa ini karya-karya yang dihasilkan masih didominasi oleh Syair, Hikayat, Gurindam, dan Pantun. Dengan para sastrawannya sendiri banyak bermunculan dari negara pantai Sumatera dan semenanjung Malaya yang berbudaya Melayu Klasik dan dipengaruhi Islam yang kuat.

Pengaruh Islam di Sumatera memang sangat lebih kuat dibandingkan pengaruh agama lain yang telah ada pada saat itu. Tidak seperti daerah Jawa yang kental dengan pengaruh Hindu maupun Budha. Hal tersebut membuat tokoh-tokoh sastra yang lahir adalah mereka yang berprofesi sebagai Ulama.

Mereka menciptakan karya sastra dalam bentuk apapun yang berisikan nilai-nilai dakwah didalamnya. Itu sekaligus jalan bagi mereka untuk melakukan penyebaran agama Islam, perluasan budaya, dan menambah pengikut kerajaan yang mereka abdi.

Seperti misalnya Hamzah Fansuri. Merupakan seorang tokoh Sufi yang begitu mahir dalam menciptakan Syair. Dia juga disebut tokoh pembuka munculnya kesusastraan Indonesia, serta tokoh Islam Nusantara. Ada banyak syair-syair yang diciptakannya beraspekkan Tasawuf (Ilmu agama). Syair-syair yang diciptanya memiliki isi dan makna yang bertujuan agar orang cinta pada Illahi.

Dalam kesusastraan Indonesia dia adalah orang pertama yang memperkenalkan Syair, Puisi empat baris dengan rima a-a-a-a. Seperti pada contoh syair dibawah ini:

Sidang fakir empunya kata
Tuhanmu zhahir terlalu nyata
Jika sungguh engkau bermata
Lihatlah dirimu rata-rata

 

Selain itu, seorang Hamzah Fansuri juga merupakan pelopor pertama yang menulis kitab keilmuan dalam bahasa Melayu. Dia berhasil mengankat derajat bahasa Melayu dari sekadar Lingua Franca (bahasa pergaulan yang sifatnya rendahan) menjadi bahasa intelektual dan ekspresi keilmuan yang canggih dan modern.

Selain Hamzah Fansuri, juga ada Syamsuddin Pasai, Abdurrauf Singkil, dan Nuruddin ar-Raniri yang memunculkan karya-karya klasik selanjutnya dari Kesultanan Aceh pada abad XVII.

Karya-karya sastra yang dihasilkan pada masa ini beberapa masih terasa Supernatural. Karena berkisah tentang Dewa-dewa, raksasa, atau dongeng yang muluk-muluk. Selain itu, bahasa yang digunakan pun masih sangat baku, hingga terasa sedikit kaku.

Adapun beberapa karya sastra yang terdapat pada angkatan pujangga lama, diantaranya:

1. Sejarah: Sejarah Melayu, Tuhfat al-Nafis (karya Raja Ali Haji).

2. Hikayat: Hikayat Abdullah, Hikayat Aceh, Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Andaken Penurat, Hikayat Bayan Budiman, Hikayat Djahidin, Hikayat Hang Tuah, Hikayat Iskandar Zulkarnain, Hikayat Kadirun, Hikayat Kalila dan Damina, Hikayat Masydulhak, Hikayat Pandawa Jaya, Hikayat Pandja Tanderan, Hikayat Putri Djohar Manikam, Hikayat Sri Rama, Hikayat Tjendera Hasan, Tsahibul Hikayat.

3. Syair: Syair Bidasari, Syair Hukum Nikah (karya Raja Ali Haji), Syair Ken Tambuhan, Syair Sidang Fakir (karya Hamzah Fansuri), Syair Sultan Abdul Muluk (karya Raja Ali Haji), Syair Burung Unggas (karya Hamzah Fansuri), Syair Raja Mambang Jauhari, Syair Raja Siak.

4. Gurindam: Gurindam Dua Belas.

5. Kitab Agama: Syarab al-‘Asyiqin (Minuman Para Pecinta) Karya Hamzah Fansuri, Asrar al-‘Arifin (Rahasia-rahasia Para Gnostik) karya Hamzah Fansuri, Nur ad-Daqa’iq (Cahaya pada Kehalusan-kehalusan) karya Syamsuddin Pasai, Bustan as-Salatin (Taman Raja-raja) karya Nuruddin ar-Raniri.


2. Angkatan Sastra Melayu Lama

Tidak diketahui pasti mengenai kapan sebenarnya masa kesusastraan Angkatan Sastra Melayu Lama ini mulai muncul. Ada yang beranggapan sebelum munculnya Angkatan Balai Pustaka tahun 1920.

Tapi, cukup banyak sumber yang mengatakan bahwa angkatan ini muncul antara tahun 1870 – 1942. Dimana berkembang dilingkungan masyarakat Sumatera, Cina, dan masyarakat Indonesia – Eropa.

Hal tersebut diketahui dari diketemukannya karya-karya berbahasa melayu yang dihasilkan pada waktu itu. Karya-karya tersebut berupa Syair, Hikayat, dan terjemahan Novel Barat.

Namun jika mengacu pada salah satu tokohnya yaitu R.M Tirto Adhi Soerjo yang menerbitkan surat kabar Medan Priaji (1907), yang mana surat kabar tersebut merupakan Surat Kabar Nasional pertama yang menggunakan bahasa Melayu. Dan pada surat kabar itu pula pernah diterbitkannya salah satu hikayat berbahasa Melayu yang diciptakan pada zaman tanam paksa antara tahun 1830 – 1890, dalam bentuk cerita bersambung. Yaitu hikayat Siti Mariah

Melihat hal tersebut memang benar kiranya kalau awal kemunculan angkatan sastra melayu lama adalah sekitar tahun 1870-an. Dan masa berakhirnya pada masa dimulainya angkatan Balai Pustaka (1920).

Beberapa karya sastra angkatan sastra melayu lama adalah: Robinson Crusoe (Terjemahan), Lawan-Lawan Merah, Mengelilingi Bumi Dalam 80 Hari (Terjemahan), Nyai Dasima oleh G. Francis, Gaaf de Monte Cristo (Terjemahan), Kapten Flamberger (Terjemahan), Rocambole (Terjemahan), Bunga Rampai oleh A.F van Dewall, Kisah Perjalanan Nakhkoda Bontekoe, Kisah Pelayaran ke Pulau Kalimantan, Kisah Pelayaran ke Makassar dan lain-lainnya, Cerita Siti Aisyah oleh H.F.R Kommer (Indo), Cerita Nyi Parina, Cerita Nyai Sarikem, Cerita Nyonya Kong Hong Nio, Nona Leonie, Warna Sari Melayu oleh Kat S.J, Cerita Si Conat oleh F.D.J Pangemanan, Cerita Rossina, Nyai Isah oleh F. Wiggers, Drama Raden Bei Surioretno, Syair Java Bank Dirampok, Lo Fen Kui oleh Gouw Peng Liang, Cerita Oey See oleh Thio Tjin Bhoen, Tambahsia, Busono oleh R.M Tirto Adhi Soerjo, Nyai Permana, Hikayat Siti Mariah oleh Hadji Moekti (Indo).



 

3. Angkatan Balai Pustaka
Kesusastraan pada angkatan ini muncul sejak tahun 1920. Misi yang dibawa oleh para sastrawannya adalah mencoba menggantikan karya-karya sastra melayu rendahan yang identik dengan isinya mengenai pernyaian (Hal-hal yang cabul).

Pada Angkatan Balai Pustaka banyak karya-karya sastra seperti Syair, Hikayat, Gurindam, dan Pantun mulai digantikan dengan Roman, Novel, Cerpen, Drama, dan Puisi.

Tetapi pada angkatan ini karya-karya berbahasa Melayu masih tetap dipertahankan. Hanya saja pada taraf bahasa Melayu tinggi. Selain bahasa Melayu, beberapa karya sastra juga ada yang diterbitkan menggunakan bahasa Jawa dan Sunda, serta dalam jumlah terbatas bahasa Bali, Batak, dan Madura.

Dalam sejarahnya, balai pustaka awalnya dibentuk ketika pemerintahan kolonial Belanda mendirikan komisi untuk bacaan sekolah pribumi dan bacaan rakyat, pada 14 September 1908 melalui keputusan Gubernemen dengan nama awal yaitu commissie voor de indlandsche school en volkslectuur yang diketuai oleh Dr. G.A.J Hazeu.

Dan balai pustaka sendiri kala itu baru menghasilkan bacaan pada tahun 1910 yang dipimpin oleh Dr D.A Rinkes sampai tahun 1916 dengan tugasnya adalah memajukan moral dan budaya serta meningkatkan apresiasi sastra.

Kemudian pada tahun 1917 pemerintahan colonial Belanda mendirikan kantoor voor de volkslectuur atau Kantor Bacaan Rakyat yaitu Balai Pustaka.

Sebenarnya pemerintahan Belanda sendiri punya unsur politis dalam mendirikan Balai Pustaka. Mereka ingin meredam dan mengalihkan gejolak perjuangan bangsa Indonesia lewat media tulisan dan tidak bertentangan dengan kepentingan Belanda.

Selain itu, bangsa Belanda juga bertujuan menerjemahkan atau menyadur hasil sastra Eropa. Agar rakyat Indonesia buta terhadap informasi yang berkembang di negaranya sendiri.

Namun hal tersebut masih disikapi positif oleh sebahagian kalangan pribumi kala itu. Karena Balai Pustaka terus mengadakan perpustakaan di tiap-tiap sekolah, mengadakan peminjaman buku dengan tarif terjangkau, dan memberikan bantuan kepada usaha-usaha swasta untuk menyelenggarakan taman bacaan.

Faktor-faktor inilah yang kemudian merubah perjalanan kesusastraan Indonesia menjadi sedikit lebih modern. Meskipun mengikuti ideologi kolonial Belanda.

1. Keberadaan Balai Pustaka telah menafikan keberadaan karya-karya terbitan swasta yang secara sepihak dituding sebagai “bacaan liar”. Karya-karya sastra yang dipublikasikan lewat surat kabar dan majalah, dianggap tidak ada.

2. Pemberlakuan sensor melalui Nota Rinkes menyebabkan buku-buku terbitan Balai Pustaka, khasnya novel-novel Indonesia sebelum perang, cenderung menampilkan tokoh-tokoh yang terkesan karikaturs.

3. Penetapan bahasa Melayu mendorong munculnya sastrawan-sastrawan yang menguasai bahasa Melayu. Dan mereka datang dari Sumatera. Maka, sastrawan-sastrawan yang berasal dari Sumatera itulah yang kemudian mendominasi peta kesusastraan Indonesia.

Ketika Belanda mundur dari Indonesia dan Jepang masuk sebagai penjajah baru, Balai Pustaka masih tetap bertahan dan menjalankan kegiatannya. Hanya saja nama Balai Pustaka diubah saat itu menjadi Gunseikanbo Kokumin Tosyokyoku yang artinya Biro Pustaka Rakyat Pemerintah Militer Jepang.

Beberapa karya Balai Pustaka, diantaranya: Azab dan Sengsara (Merari Siregar), Siti Nurbaya (Marah Rusli), Salah Asuhan (Abdul Muis), Pertemuan Jodoh (Abdul Muis), Salah Pilih (Nur Sultan Iskandar), Apa Dayaku Karena Aku Perempuan (Nur Sultan Iskandar), Muda Taruna (Muhamad Kasim), Kasih Tak Terlerai (Suman H.S), Buah di Kedai Kopi (Suman H.S), Darah Muda (Adinegoro), Asrama Jaya (Adinegoro), Sengsara Membawa Nikmat (Tulis Sultan Tati), Dagang Melarat (Abas Sutan Pamunjak Nan Sati), Pertemuan (Abas Sutan Pamunjak Nan Sati).

Pada masa ini, novel Siti Nurbaya dan Salah Asuhan menjadi karya yang cukup penting. Keduanya menampilkan kritik tajam terhadap adat – istiadat dan tradisi kolot yang membelenggu. Dalam perkembangannya, tema-tema inilah yang banyak diikuti oleh penulis lainnya pada masa itu.


4. Angkatan Pujangga Baru

Angkatan Pujangga Baru ini bisa dibilang adalah angkatan yang menentang pemerintahan kolonial saat itu. Karena banyaknya sensor karya tulis para sastrawan yang dilakukan oleh Balai Pustaka.

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya. Kalau Balai Pustaka merupakan bentukan pemerintahan kolonial yang bertujuan politis agar masyarakat mendapatkan bacaan yang tidak memicu pergerakan yang menentang pemerintahan saat itu.

Sastra Pujanga Baru merupakan sastra Intelektual, Nasionalitis, dan Elitis. Yang dipimpin oleh Sutan Takdir Alisjahbana. Karya Sutan Takdir Alisjahbana yaitu Layar Terkembang, menjadi salah satu novel yang sering diulas oleh para kritikus sastra Indonesia. Sebab, menjadi karya terpenting sebelum perang.

Selain Sutan Takdir Alisjahbana juga ada nama Amir Hamzah, dan Armijn Pane yang turut berperan dalam angkatan ini. Mereka bertiga sebelumnya pernah menjadi bagian dari Balai Pustaka.

Para sastrawan pujangga baru membagi diri mereka menjadi kelompok, yaitu:

1. Kelompok “Seni Untuk Seni”. Yang mana dimotori oleh Sanusi Pane dan Tengku Amir Hamzah.

2. Kelompok “Seni Untuk Pembangunan Masyarakat”. Yang mana dimotori oleh Sutan Takdir Alisjahbana, Armijn Pane, dan Rustam Effendi.

Mengenai sejarah munculnya angkatan pujangga baru, itu berawal dari nama majalah sastra dan kebudayaan yang terbit antara tahun 1933 sampai dengan adanya pelarangan oleh pemerintah Jepang setelah tentara Jepang berkuasa di Indonesia. Nama majalah tersebut adalah Pujangga Baru.

Adapun pengasuh dari majalah tersebut adalah Sutan Takdir Alisjahbana, Armijn Pane, Amir Hamzah dan Sanusi Pane.

Jadi Pujangga Baru bukanlah suatu konsepsi atau aliran. Namun demikian, orang-orang atau pengarang yang hasil karyanya pernah dimuat di majalah itu, dinilai memiliki bobot dan cita-cita kesenian yang baru dan mengarah kedepan.

Karya-karya yang terbit pada majalah itu sudah ada setelah terbentuknya zaman Balai Pustaka. Sekitar tahun 1930 hingga tahun 1942.

Untuk memudahkan kita mengingatnya, bahwa adanya angkatan baru itulah maka dipakai istilah angkatan Pujangga Baru, yang tak lain adalah orang-orang yang tulisan-tulisannya pernah dimuat di majalah tersebut.

Adapun majalah tersebut, diteritkan oleh Pustaka Rakyat, yaitu suatu Badan yang memang mempunyai perhatian terhadap masalah-masalah kesenian.

Namun, pada zaman pendudukan Jepang majalah Pujangga Baru ini dilarang oleh pemerintahan Jepang dengan alasan “kebarat-baratan”.

Setelah Indonesia merdeka, majalah ini pun diterbitkan lagi (tahun 1948 s/d 1953), dengan pemimpin Redaksinya: Sutan Takdir Alisjahbana dan beberapa tokoh-tokoh sastra angkatan ’45 seperti Asrul Sani, Riai Apin, dan S. Rukiah.

Karya-karya sastra yang lahir dari angkatan ini bersifat Romantis – Idealistik. Beberapa karya tersebut diantaranya:

1. Sutan Takdir Alisjahbana: Dian Tak Kunjung Padam (1932), Tebaran Mega – Kumpulan Sajak (1935), Layar Terkembang (1936), Anak Perawan di Sarang Penyamun (1940).

2. Abdul Malik Karim Amrullah (Buya Hamka): Di Bawah Lindungan Ka’bah (1938), Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (1939), Tuan Direktoer (1950), Didalam Lembah Kehidoepan (1940).

3. Armijn Pane: Belenggu (1940), Jiwa Berjiwa, Gamelan Jiwa – Kumpulan Sajak (1960), Djinak-Djinak Merpati – Sandiwara (1950), Kisah Antara Manusia – Kumpulan Cerpen (1953), Habis Gelap Terbitlah Terang – Terjemahan Surat R.A Kartini (1945).

4. Sanusi Pane: Pancaran Cinta (1926), Puspa Mega (1927), Madah Kelana (1931), Sandhyakala Ning Majapahit (1933), Kertaya (1932).

5. Tengku Amir Hamzah: Nyanyi Sunyi (1937), Begawat Gila (1933), Setanggi Timur (1939).

Masih banyak sastrawan-sastrawan lainnya yang ada di angkatan ini dan karya-karyanya yang juga dimuat di majalah Pujangga Baru.


5. Angkatan 1945

Kesusastraan pada angkatan ini sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 1942. Dimana itu adalah tahun masuknya Jepang ke Indonesia atas pengambilalihan kekuasaan dari negara Belanda. Maka, bisa dikatakan kesusastraan pada angkatan ini adalah kesusastraan zaman penjajahan Jepang.

Pada masa ini juga, masyarakat pribumi yang berbahasa Belanda dianjurkan untuk menggunakan bahasa Indonesia. Hal tersebut juga berpengaruh pada penggunaan bahasa pada surat-surat keputusan di kantor-kantor.

Perbedaan yang sangat mendasar pada angkatan ini dengan angkatan Pujangga Baru adalah terletak pada sifatnya yaitu Romantis Realistik.

Adapun yang disebut-sebut sebagai pelopor yang cukup terkenal namanya dari angkatan sastra ini adalah Chairil Anwar. Oleh H.B Jassin dia disebut juga sebagai pelopor puisi modern Indonesia.

Chairil Anwar telah menciptakan karya sebanyak 96 karya sastra. Termasuk diantaranya 70 puisi.

Puisinya menyangkut berbagai tema, mulai dari pemberontakan, kematian, individualisme, dan eksistensialisme, hingga tak jarang multi-interprestasi. Dari puisinya yang berjudul “Aku”, dia kemudian mendapat julukan “Si Binatang Jalang”.

Chairil Anwar tidak sendirian. Ada nama Asrul Sani, Rivai Apin, dan Idrus yang juga turut menjadi pelopor di angkatan ini. Karya-karya yang mereka cipta banyak yang bercerita tentang perjuangan merebut kemerdekaan.

Meskipun terbilang dalam waktu yang cukup singkat, yaitu antara tahun 1942 – 1945. Para sastrawan pada angkatan ini tidak berhenti berkarya begitu saja setelah kemerdekaan Indonesia.

Sebutan “Angkatan ‘45” sebenarnya baru diberikan pada tahun 1949 oleh Rosihan Anwar (Tokoh Pers, Sastrawan, Sejarawan, Budayawan), meski tidak disetujui banyak sastrawan. Keberatannya karena nama tersebut kurang pantas ditujukan kepada para pengarang, yang notabene berbeda dengan para pejuang kemerdekaan yang melakukan perang. Yang mana sebelumnya telah diberi predikat sebagai angkatan ’45.

Pada angkatan ini, banyak sastrawan terbagi dalam beberapa kubu berbeda. Beberapa ada di pihak Jepang sebagai propaganda Jepang. Seperti Armijn Pane, Nur Sutan Iskandar, Karim Halim, dan Usmar Ismail. Mereka pun dianggap sebagai sastrawan-sastrawan resmi Jepang.

Di kubu yang berbeda. Yaitu sebagai sastrawan yang menentang Jepang. Diantaranya Chairil Anwar, Idrus, dan Amir Hamzah.

Selain itu, ada juga sastrawan yang kompromistis seperti Maria Amin. Dan yang bimbang seperti Bakrie Siregar.

Adapun pembedaan kubu-kubu tersebut dilihat dari karya-karya yang mereka ciptakan.
Ada beberapa ciri-ciri yang sangat menonjol dari angkatan ini. Baik dari karyanya, maupun pelakunya. Ciri-ciri tersebut adalah:

1. Terbuka

2. Pengaruh unsur sastra asing lebih luas

3. Corak isi lebih Realis, Naturalis

4. Individualisme sastrawan lebih menonjol, dinamis, dan kritis

5. Penghematan kata dalam karya

6. Ekspresif

7. Sinisme dan Sarkasme

8. Karangan Prosa berkurang, sedangkan Puisi berkembang.

Pada angkatan ini didapati sebuah surat. Dimana surat tersebut dianggap sebagai pernyataan sikap dari beberapa sastrawan Indonesia yang pada kemudian hari dikenallah mereka sebagai Angkatan ’45. Surat tersebut dinamakan “Surat Kepercayaan Gelanggang”. Yang pada intinya surat tersebut berisikan pandangan hidup para tokoh sastra angkatan ’45 secara eksplisit.

Berikut isi suratnya:




Karya-karya sastra yang lahir pada angkatan ini adalah:

1. Chairil Anwar: Kerikil Tajam (1949), Deru Campur Debu (1949)

2. Asrul Sani bersama Rivai Apin dan Chairil Anwar: Tiga Menguak Takdir (1950)

3. Idrus: Dari Ave Maria ke Djalan Lain ke Roma (1948), Aki (1949), Perempuan dan Kebangsaan.

4. Achdiat K. Miharja: Atheis (1949)

5. Trisno Sumardjo: Kata Hati dan Perbuatan (1952)

6. Utuy Tatang Sontani: Suling (Drama) (1948), Tambera (1949),

7. Suman H.S: Pertjobaan Setia (1940)


6. Angkatan 1950 – 1960-an

Pada angkatan ini ditandai dengan terbitnya majalah sastra Kisah yang dipimpin oleh H.B Jassin. Ciri yang ditunjukkan dari angkatan ini adalah karya-karya sastra yang diciptakan didominasi dengan cerpen dan kumpulan puisi.

Majalah sastra tersebut hanya bertahan sampai tahun 1956 dan diteruskan dengan majalah sastra lainnya, yaitu Sastra.

Jika pada angkatan sebelumnya (Angkatan ’45), banyak para pelakunya berkarya dalam upaya perjuangan kemerdekaan. Dengan melawan berbagai pengekangan dan penindasan dari negara asing. Maka, lain halnya dengan angkatan ini.

Para sastrawan pada angkatan ini mengalami konflik serius yang membuat mereka terpecah belah. Adapun konflik itu sendiri akibat dari perbedaan pendapat terhadap ideology yang ingin dicapai.

Awal mula konflik muncul karena beberapa kalangan sastrawan terlibat dalam politik praktis. Mereka membentuk sebuah organisasi khusus yang pada pokoknya bertugas dalam bidang kebudayaan, kesenian, dan ilmu.

Organisasi tersebut adalah Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Lekra sangat lekat dengan beberapa jargonnya seperti, “Seni Untuk Rakyat”, “Politik Adalah Panglima”, “Realisme Sosial”, serta “Ideologi Diatas Seni”.

Beberapa nama yang tergabung dalam Lekra, diantaranya: Bakrie Siregar (Sastrawan), A.S Dharta (Sastrawan), Pramoedya Ananta Toer (Sastrawan), Rivai Apin (Sastrawan), Utuy Tatang Sontani (Sastrawan), Joebaar Ajoeb (Sastrawan, Budayawan), Affandi Koesoema (Seniman), Djoko Pekik (Seniman), Gregorius Soeharsojo Goenito (Seniman), Amarzan Ismail Hamid (Wartawan), dan masih banyak lagi.

Seperti klaim yang pernah disampaikan Pramoedya pada tahun 1963, bahwa Lekra telah memiliki ribuan anggota dari berbagai daerah. Lekra memang memiliki kantor/badan cabang di banyak daerah.

Lalu, sebahagian sastrawan lainnya menyatakan sikap untuk tidak terlibat pada politik. Dan mereka pun membuat manifestasi terhadap hal itu. Adapun manifestasi tersebut bernama Manifes Kebudayaan (Manikebu).

Beberapa nama yang turut membuat dan menandatangani manifestasi tersebut diantaranya: Wiratmo Soekito, Gunawan Mohammad, Bokor Hutasuhut, Trisno Sumardjo, Zaini, H.B Jassin, Bur Rusyanto, A. Bastari Asnin, Ras Siregar, Djufri Tanissan, Soe Hok Djin (Arif Budiman), Sjahwil, D.S Moeljanto, Hartoyo Andangdjaja, Binsar Sitompul, Taufik A.G Ismail, Gerson Poyk, M. Saribi Afn, Poernawan Tjondronagoro, Boen S. Oemarjati, Sutan Takdir Akisjahbana, Idrus, Mochtar Lubis, Trisno Sumardjo, Abdul Malik Karim Amrullah (Buya Hamka), dan masih banyak lagi.

Mereka yang menjadi bagian dari manifestasi tersebut adalah merupakan orang-orang yang tergabung dalam Kelompok Gelanggang (Gelanggang Seniman Merdeka, berdiri tahun 1947). Sebuah kelompok yang didirikan oleh Chairil Anwar bersama kawan-kawannya yang berprofesi sebagai sastrawan dan seniman.

Manifestasi yang dibuat pada tanggal 17 Agustus 1963 tersebut bertujuan untuk melawan dominasi dan tekanan dari golongan kiri (yang pada masa itu sangat berjaya). Dimana Lekra yang mengusung konsep Reaisme Sosialis adalah bagaian dari golongan itu.

Pernyataan Dominasi dan Tekanan sejauh ini masih menjadi pertanyaan bagi saya. ‘Benarkah demikian?’. Jika membaca Surat Terbuka Pramoedya Ananta Toer Kepada Keith Foulcher (Author of Sastra Indonesia Modern), Pramoedya menjelaskan segala permasalahan yang dia alami hingga mengenai perselisihan antara Lekra dengan Manifes Kebudayaan”.

Pencetus utama dibuatnya Manifes Kebudayaan adalah H.B Jassin, Wiratmo Soekito, dan Trisno Soemardjo. Mereka sendiri mengusung konsep Humanisme Universal. Selain itu, Manifestasi Kebudayaan juga memiliki jargon, yaitu: “Seni Untuk Seni”, dan “Pancasila Sebagai Falsafah Kebudayaan”.

Manifes Kebudayaan dan Lekra sama-sama memiliki media pendukung dalam menerbitkan karya masing-masing anggota kelompoknya. Karya-karya yang diterbitkan bisa pada sebuah majalah ataupun buku. Persaingan kedua kelompok nampak jelas dari setiap tulisan-tulisan yang di publish majalah-majalah pendukung kelompok masing-masing.

Lekra memiliki supporting dari Zaman Baru, Harian Rakyat, dan Lentera pada media Bintang Timur. Sedangkan, Manifes Kebudayaan memiliki supporting dari Majalah Sastra.

Sebuah perang argument yang pernah terjadi antara dua kelompok tersebut adalah: saat majalah Lentera membuat tulisan yang menuduh bahwa karya Buya Hamka yaitu Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck merupakan plagiat dari karya pengarang arab, Manfaluthi.

Mengetahui hal tersebut H.B Jassin (pimpinan majalah Sastra) kemudian bereaksi membela Buya Hamka dengan menerbitkan terjemahan asli karya Manfaluthi. Namun, langkah tersebut tidak menyelesaikan masalah. Majalah Lentera semakin menjadi-jadi dalam mendiskreditkan Buya Hamka.

Atas kejadian itu, maka mulai muncullah sebutan kubu Jassin melawan kubu Pramoedya. Disinyalir nama pena yang menulis tentang keplagiatan Buya Hamka adalah Pramoedya Ananta Toer.

Perseteruan H.B Jassin dengan Pramoedya itu bukanlah yang pertama kalinya. Keduanya telah sering bersilang pendapat ketika Pramoedya masih menjadi bagian dari kelompok Gelanggang.

Pramoedya kemudian melepaskan diri dari kelompok yang berisikan kaum formalis yang menjadi kritikus-kritikus sastra itu. Hal itu dikarenakan perbedaan pandangan yang dialami Pramoedya mengenai karya sastra. Tak jarang karya-karya Pramoedya tak mendapat apresiasi dari mereka. Inilah yang menjadi penyebab utama beralihnya Pramoedya pada Lekra.

Lekra sering dianggap sebagai onderbouw PKI (Partai Komunis Indonesia). Karena banyak yang menyebut bahwa pendiri Lekra adalah dari kalangan petinggi PKI. Pihak Lekra maupun PKI tak ada yang memberikan pernyataan resmi soal itu.

Lekra memang memiliki ideologi yang sama dengan PKI. Makanya keduanya memiliki kedekatan. Sehingga Lekra dianggap bagian dari PKI.

Pada masa ini PKI sedang dalam puncak kejayaan karena perubahan sistem pemerintahan yang dilakukan oleh Presiden Ir. Soekarno. Dari era Demokrasi Liberal Parlementer menjadi era Demokrasi Terpimpin. Dengan semboyan yang digunakan ialah NASAKOM (Nasionalisme, Agama, Komunisme). Terlebih saat itu PKI adalah pendukung pemerintahan Soekarno.

Hal tersebut jelas memberi keuntungan luarbiasa bagi Lekra yang telah akrab dengan PKI. Selain itu, Pramoedya yang telah menjadi bagian dari Lekra pun memiliki kedekatan dengan Soekarno. Pramoedya adalah salah satu sastrawan pendukung pemerintahannya.

Persaingan Manifes Kebudayaan dengan Lekra akhirnya membuat sedikit pukulan pada pihak-pihak Manifes Kebudayaan. Dimana terjadinya beberapa peristiwa seperti: Dipenjarakannya Buya Hamka pada awal tahun 1963 dengan tuduhan “Makar”. Manifest Kebudayaan dinyatakan terlarang oleh Presiden Soekarno karena dianggap menentang Manipol/USDEK-nya Soekarno. Hingga akhirnya Departemen Pendidikan dan Kebudayaan membuat pengumuman pelarangan karya-karya kelompok Manifes Kebudayaan.

Setelah bertahun-tahun dalam kejayaannya, akhirnya posisinya pun berbalik. Lekra dan PKI akhirnya pun hancur karena pecahnya tragedi Gerakan 30 September (G30S/PKI).

Lekra akhirnya dinyatakan terlarang sesuai TAP MPRS no. XXV/MPRS/Tahun 1966, tentang Pelarangan Komunisme, Leninisme, dan Pembubaran Organisasi PKI Beserta Organisasi Massanya.

Dengan ini Lekra benar-benar dianggap bagian dari PKI oleh rezim Orde Baru. Banyak anggota Lekra dipenjarakan setelah itu dan menjadi tahanan politik. Termasuk Pramoedya yang ditangkap di rumahnya pada 13 Oktober 1965. Ada juga yang menyatakan bahwa sebahagian sastrawan Lekra yang lain sudah terbunuh.

Pramoeda Ananta Toer yang dianggap sebagai tokoh simpatisan PKI yang berpengaruh kala itu benar-benar tidak mengetahui penyebab pembantaian para jenderal di Lubang Buaya oleh PKI. Dia hanya menduga bahwa itu adalah akibat konflik internal yang terjadi di kubu Angkatan Darat. Hingga sebelum Pramoedya ditangkap di rumahnya, beberapa hari dia mengalami terror dari kelompok-kelompok yang tidak dia ketahui.

Akhirnya, setelah semua kejadian itu, sastrawan-sastrawan yang tergabung dalam Manifes Kebudayaan seperti menemukan udara segar kembali. Mereka kembali bebas berkarya.

Sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh Putu Oka Sukanta kala itu adalah “Lekra dan PKI secara organisasi terpisah, tapi mempunyai tujuan yang sama”.

Sebagai sastrawan yang sangat terkenal di kancah Nasional maupun Internasional, mungkin banyak yang tak sepaham mengenai pendapat bahwa Pramoedya Ananta Toer adalah bagian dari PKI atau penganut komunisme.

Jika kita telah banyak membaca karya-karya Pramoedya dan membaca biografi tentangnya, kita tidak pernah akan menemukan bukti bahwa dia adalah Komunis atau bagian dari PKI.

Dalam prinsip hidupnya hanya satu – berkarya berdasarkan apa yang menjadi dasar pemikirannya sendiri. Dan dasar pemikirannya (ideologi) tersebut dapat dilihat dari karya-karyanya yang selalu mengangkat nilai-nilai sosial. Maka, demi terus berkarya sesuai dasar pemikirannya, dia pun menjauhi kelompok Gelanggang yang saat itu hanya menilai sebuah karya berdasarkan nilai estetika, lalu bergabung dengan Lekra. Tak perduli Lekra adalah Komunis atau bukan. Dia hanya menilai Lekra punya tujuan yang sama dengannya.

Pada masa 1950 hingga 1960-an adalah masa dimana kekuatan politik sangat dominan. Melihat hal itu juga Pramoedya menganggap bahwa ideologi sastra yang dia anut penting untuk menyatu dengan politik. Ini menunjukkan bahwa dia tidak pernah menutup diri terhadap perubahan. Selama tujuannya tetap tercapai: agar sebuah karya punya pengaruh bagi kehidupan masyarakat, dan kritik sosial tetap menjadi penting bagi pemerintahan.

Karya-karya yang ada pada angkatan ini, diantaranya:

1. Pramoedya Ananta Toer: Bukan Pasar Malam (1951), Cerita Dari Blora (1952), Gadis Pantai (1962 – 1965), dan banyak lagi.

2. Nh. Dini: Dua Dunia (1950), Hati jang Damai (1960)

3. Sitor Situmorang: Dalam Sadjak (1950), Djalan Mutiara: Kumpulan Tiga Sandiwara (1954), Pertempuran dan Salju di Paris (1956), Surat Kertas Hijau: Kumpulan Sajak (1953), Wajah Tak Bernama: Kumpulan Sajak (1955).

4. Mochtar Lubis: Tak Ada Esok (1950), Jalan Tak Ada Ujung (1952), Tanah Gersang (1964), Si Djamal (1964).

5. Marius Ramis Dayoh: Putra Budiman (1951), Pahlawan Minahasa (1957)

6. W.S Rendra: Balada Orang-Orang Tercinta (1957), Empat Kumpulan Sajak (1961), Ia Sudah Bertualang (1963).

7. Subagio Sastrowardoyo: Simphoni (1957)

8. Nugroho Notosusanto: Hujan Kepagian (1958), Rasa Sajange (1961), Tiga Kota (1959).

9. Purnawan Tjondronagoro: Mendarat Kembali (1962)

10. Bokor Hutasuhut: Datang Malam (1963)


7. Angkatan 1966 – 1970-an

Seperti pada angkatan sebelumnya, para pelaku (sastrawan) yang berperan pada angkatan ini masih dari mereka yang lama. Nama H.B Jassin masih menjadi salah satu pelopornya. Bahkan H.B Jassin sendirilah yang menyebutkan kemunculan angkatan ini.

Sastrawan-sastrawan yang menandatangani Manifes kebudayaan adalah para pemainnya di angkatan ini. Dan beberapa sastrawan baru yang sebelumnya juga telah berkarya selama masa kejayaan PKI dan Lekra, tapi bukan bagian dari Lekra ataupun Manifes Kebudayaan. Seperti misalnya Soe Hok Gie, adik dari Soe Hok Djin (Arif Budiman).

Soe Hok Gie merupakan mahasiswa Uniersitas Indonesia etnis Tionghoa yang menjadi aktivis. Dia banyak menciptakan karya-karya tulis, baik artikel maupun puisi yang berisikan tentang penentangannya terhadap pemerintahan Soekarno dan pemerintahan Soeharto.

H.B Jassin yang mengumumkan tulisannya melalui majalah Horison, Tahun I no. 2, Agustus 1966, halaman 36 – 41, yaitu: “Angkatan ’66, Bangkitnya Satu Generasi”. “Angkatan ‘66”, itulah disematkan bagi mereka para sastrawan yang kembali mendapatkan kebebasan berekspresi dalam berkarya setelah dihancurkannya PKI dan Lekra, juga tumbangnya Orde Lama.

Beberapa kalangan sastrawan pada masa ini kurang menyukai sebutan angkatan ’66. Mereka lebih menyukai disebut Angkatan Manikebu (“manikebu” adalah sebutan yang dilontarkan D.N Aidit (Pimpinan PKI kala itu) untuk mendiskreditkan Manifes Kebudayaan). Namun para sastrawan yang dahulu tidak turut dalam penandatangan Manifes Kebudayaan, menolak penggunaan sebutan itu.

Dimualainya angkatan ini ketika pecahnya aksi para demonstran yang tergabung dalam KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) dan KAPI (Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia) menuntut Tritura (Tri Tuntutan Rakyat). Dimana Tritura berisikan: Turunkan Harga, Bubarkan PKI, dan bersihkan kabinet dari unsur G30S/PKI.

Dengan kondisi seperti itu, para sastrawan pun turut menggelorakan tuntutan rakyat itu dengan karya-karyanya. Banyak sajak yang bertema kritik sosial dan politik dihasilkan saat itu. Seperti Taufiq Ismail dengan sajaknya yang berjudul Tirani dan Benteng, Mansur Samin dengan Perlawanan, Bur Rasuanto dengan Mereka Telah Bangkit, Abdul Wahid Situmeang dengan Pembebasan, Leon Agusta dengan Monumen Safari, dan banyak lagi yang lainnya.

H.B Jassin mengatakan bahwa yang termasuk Angkatan ’66 ini adalah mereka yang telah menulis sajak-sajak perlawanan pada awal tahun 1966 dan juga mereka yang telah aktif sebelumnya pada beberapa tahun terakhir dengan sesuatu kesadaran.

Sejak dimulainya orde baru ini pula, para sastrawan angkatan ’66 mendapatkan kebebasan berkarya. Sedangkan mereka yang dinyatakan terbukti sebagai orang-orang yang menjadi bagian dari PKI harus ditahan dan karya-karyanya ditarik dari peredaran.

Ada beberapa kejadian penting yang terjadi pada angkatan ini, diantaranya:

1. Pada Juni 1968
Ali Sadikin (Gubernur DKI Jakarta) telah mempelopori terbentuknya Dewan Kesenian Jakarta. Namun, baru mendapatkan landasan hukum dan pengakuan dari pemerintah pusat pada tahun 1992 lewat Instruksi Mendagri No. 5A/1992.

2. Pada Oktober 1968
Sebuah cerita pendek yang berjudul Langit Makin Mendung karya Kipandjikusmin dilarang oleh Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara karena isinya dianggap menghina Tuhan. Hal tersebut menunjukkan masih adanya golongan lain yang menyatakan bahwa kebebasan kreatifitas dalam sastra belum dijamin sepenuhnya oleh pemerintah.

3. Pada 10 November 1968
Pusat kesenian Jakarta, “Taman Ismail Marzuki”, dibuka secara resmi. Pada saat diresmikan, Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin memberikan pernyataan yang mendukung kebebasan dalam aktifitas seni dengan mengatakan bahwa politik tidak boleh intervensi dalam Pusat Kesenian Jakarta, seperti saat pemerintahan Orde Lama.

4. Pada Tahun 1971
Ketika Sardono W. Kusumo mementaskan Samgita II di Surakarta mendapatkan reaksi yang keras. Pementasan tersebut dilempari telur busuk dan beberapa pemain pendukung pementasan tersebut juga mengalami intimidasi dari pendukung seni tari jawa Adiluhung (Sastra Jawa Klasik).

5. Pada Tahun 1974
Teater Kecil milik Arifin C. Noer yang mementaskan Orkes Madun juga diprotes oleh seorang tokoh agama di Jakarta, K.H Adullah Syafe’i. Hal tersebut dikarenakan publisitas yang dilakukan oleh Arifin C. Noer menggunakan gambar semar beserta kaligrafi bertuliskan ayat-ayat Al-Qur’an. Jadi, publisitas tersebut dianggap melecehkan agama Islam.

6. Pada Tahun 1975
Putu Wijaya yang mementaskan lakon “Lho” juga dip rotes dengan keras oleh Gubernur DKI Jakarta (Ali Sadikin) karena dalam lakon tersebut terdapat adegan senggama dan telanjang bulat. Ali Sadikin menyatakan bahwa lakon tersebut tidak baik dan salah.

Kebebasan berkarya yang dianggap oleh kaum Manifes Kebudayaan karena di musnahkannya Lekra dan PKI, serta tumbangnya pemerintahan Orde Lama ternyata tidak benar-benar begitu dapat dirasakan. Karena pemerintah Orde Baru semakin represif terhadap karya-karya yang coba melakukan kritik sosial dan politik.


8. Angkatan 1980 – 1990-an

Ada dua hal utama yang melatarbelakangi lahirnya angkatan kesusastraan ini, yaitu:

1. Aturan-aturan yang pemerintahan ketat (tidak pro rakyat)
Pemerintahan Orde Baru yang dipimpin oleh Soeharto yang mana pada masa itu beliau juga masih menjadi pimpinan militer telah merombak habis peraturan sisa-sisa pemerintahan Orde Lama. Namun, masih menjunjung tinggi ideologi Pancasila.

Tapi membentuk aturan-aturan baru yang kala itu sangat membatasi kebebasan masyarakat. Termasuk para sastrawan. Pemerintahan bagaikan tumbuhan Putri Malu yang tak bisa di sentuh. Sangat sensitif. Cukup besar resikonya jika apapun karya sastra yang dicipta kala itu mencoba memprovokasi, mengancam, melecehkan, menyinggung dan merugikan maka akan langsung ditindaklanjuti oleh Soeharto dengan segera.

2. Depolitisasi
Pada awal masa angkatan ini kesusastraan berada di tengah lingkungan yang masyarakatnya mengalami depolitisasi yang nyaris total. Aktifitas-aktifitas politik mahasiswa ditertibkan dan mahasiswa sepenuhnya dijadikan organ kampus yang dilepaskan dari segala macam aktifitas politik. Mimbar bebas tidak lagi dibolehkan dan bahkan indoktrinasi berupa penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) mulai menjadi bagian integral kehidupan kampus.

Politik stabilitas, security approach, normalisasi kehidupan kampus, dan asas tunggal merupakan lingkungan tempat para sastrawan angkatan ini hidup. Majalah sastra hanya ada Horison dan Basis. Taman Ismail Marzuki (TIM) sebagai pusat kesenian tidak lagi seleluasa dahulu, baik masalah dana maupun kegiatan.

Akibat dari depolitisasi ini, sastra yang muncul pun jadi tidak sesuai dengan realitas sosial politik serta tidak menunjukkan kegelisahan dan kesakitan kolektif masyarakat saat itu.


Kedua hal diatas kemudian menjadi alasan hilangnya karya-karya sastra yang bersifat sosial – politik, lalu memunculkan karya-karya yang bertemakan percintaan, dan kehidupan manusia. Dan memunculkan banyak sastrawan-satrawan baru yang terbilang hebat dalam menciptakan karya-karya seperti itu.

Beberapa sastrawan yang dapat mewakili angkatan 1980-an ini antara lain: Remy Sylado, Yudistira Ardinugraha, Noorca Mahendra, Seno Gumira Ajidarma, Pipiet Senja, Kurniawan Junaidi, Ahmad Fahrawie, Micky Hidayat, Arifin Noor Hasby, Tarman Effendi Tarsyad, Noor Aini Cahya Khairani, dan Tajuddin Noor Ganie.

Selain itu, ada banyak sastrawan-sastrawan wanita yang muncul pada angkatan ini. Seperti misalnya Nh. Dini (Nurhayati Dini) dengan beberapa karyanya antara lain: Pada Sebuah Kapal, Namaku Hiroko, La Barka, Pertemuan Dua Hati, dan Hati Yang Damai. Salah satu cirri khas yang menonjol pada novel-novel yang ditulisnya adalah: kuatnya pengaruh dari budaya barat, dimana tokoh utama biasanya mempunyai konflik dengan pemikiran timur.

Lalu ada Mira W dan Marga T. Dua sastrawan wanita ini memiliki ciri-ciri sama pada novel-novelnya yaitu kisah romantis. Pada umumnya tokoh utama dalam novel mereka adalah wanita. Bertolak belakang dengan novel-novel Balai Pustaka yang masih dipengaruhi oleh sastra Eropa abad ke-19 dimana tokoh utama selalu dimatikan untuk menonjolkan rasa romantisme dan idealisme. Karya-karya pada angkatan ini biasanya selalu mengalahkan peran antagonisnya.

Ada beberapa sastrawan wanita yang terkenal muncul dari komunitas Wanita Penulis Indonesia yang di komandani Titie Said, antara lain: La Rose, Lastri Fardhani, Diah Hadaning, Yvonne de Fretes, dan Oka Rusmini.

Pada angkatan inilah tumbuhnya sastrawan-sastrawan beraliran pop. Salah satu pelopornya yang cukup terkenal yaitu Hilman Hariwijaya dengan serial Lupus miliknya. Namun, setelah itu dia tidak aktif lagi menulis.


9. Angkatan Reformasi
Satu kata yang dapat mewakilkan alasan kemunculan angkatan sastra ini, ialah “Jenuh”. Bukan hanya bagi kalangan sastrawan. Kalangan mahasiswa dan masyarakat sipil lainnya pun telah cukup jenuh terus dibungkam dengan kekuasaan yang tidak pernah memberikan kedaulatan sepenuhnya kepada rakyat.

Merajalelanya KKN di kalangan elit pemerintahan dan krisis moneter pada tahun 1997 menjadi puncak kehancuran pemerintahan Orde Baru. Hampir tak ada bedanya dengan penjatuhan pemerintahan Orde Lama. Seluruh kalangan masyarakat tumpah ruah menduduki instansi-instansi vital pemerintahan hampir di setiap daerah. Demi menyampaikan tuntutan.

Ada 6 hal yang menjadi tuntutan reformasi waktu itu, yaitu:


1. Penegakan Supremasi hukum

2. Pemberantasan KKN

3. Mengadili Soeharto beserta kroninya

4. Amandemen Konstitusi (UUD 1945)

5. Pencabutan Dwi fungsi TNI/Polri

6. Otonomi daerah seluas-luasnya.

Jatuhnya pemerintahan Orde Baru juga tak lepas dari pergerakan kalangan aktivis yang menyatakan diri sebagai bagian dari organisasi Persatuan Rakyat Demokratik (PRD). Yang kemudian menjadi sebuah partai. Yang mana PRD sendiri telah terbentuk sejak April 1996.

Pada masa pergerakan PRD, ada banyak aktivisnya yang ditangkap aparat karena dianggap melawan negara, bahkan ada beberapa nama anggotanya yang hingga kini tidak pernah diketahui namanya. Termasuklah nama Widji Thukul salah satunya.

Sebagai sastrawan sekaligus aktivis pro demokrasi, Widji Thukul sudah memiliki jiwa sastra sejak kecil. Dia sudah mulai menulis puisi sejak duduk di angku SD. Puisi-puisi yang ditulisnya dan sangat terkenal hingga kini merupakan puisi-puisi bertemakan sosial dan politik.

Selama masa pelariannya dari kejaran aparat sejak tahun 1966, dia terus menciptakan puisi. Bisa dibilang, Widji Thukul adalah orang yang paling dicari pemerintah dan aparat saat itu. Karena suaranya yang begitu lantang dan pergerakannya yang sangat aktif menentang ketidakadilan.

Beberapa puisi Widji Thukul yang sangat terkenal dan pernah mengisi media massa saat itu, diantaranya:

1. Para Jenderal Marah-Marah

2. Peringatan

3. Sajak Suara

4. Bunga dan Tembok

5. Aku Masih Utuh dan Kata-Kata Belum Binasa

Selain Widji Thukul, juga ada beberapa sastrawan yang aktif berkarya pada masa ini. Dan karya-karyanya juga merupakan karya-karya yang bertemakan sosial dan politik. Seperti misalnya: Sutardji Calzoum Bachri, Ahmadun Yosi Herfanda, Acep Zamzam Noer, dan Hartono Benny Hidayat.

Kemunculan sastra pada angkatan ini memang ditandai dengan kembalinya karya-karya yang bertemakan sosial dan politik, dan semangat demokrasi. Seperti karya-karya berupa cerpen, puisi, dan novel, yang khusus mengangkat seputar hal reformasi.

Selain sosial dan politik, ada juga beberapa ciri lain yang terlihat pada beberapa karya era reformasi, yaitu: Ekspresif seperti karyanya Ahmodun Yosi Herfanda (Resonansi Indonesia), bertema peduli bangsa seperti karyanya Acep Zamzam Noer (Di Luar Kata), dan tema religius dan nuansa sufistik seperti karyanya N. Rianto (Opera Kecoa).


10. Angkatan 2000-an

Berbeda dengan angkatan reformasi yang tidak pernah berhasil dikukuhkan karena tidak memiliki juru bicara. Maka pada angkatan ini, seorang Korrie Layun Rampan (sastrawan) mencetuskan angkatan 2000-an dengan menyusun sebuah buku yang berjudul “Sastrawan Angkatan 2000”, yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Dimana pada buku tersebut berisikan lebih dari seratus nama sastrawan Indonesia yang terdiri dari penyair, cerpenis, novelis, esais, dan kritikus sastra.

Mereka para sastrawan yang telah masuk buku tersebut bukan hanya yang berkarya sejak tahun 2000. Melainkan mereka juga yang telah menulis dan berkarya sejak tahun 1980-an. Yang mana karya-karyanya masih memiliki tempat dan minat di hati kalangan pembaca dan pecinta sastra. Maka dapat dipastikan angkatan 2000-an adalah angkatan sastra yang memiliki ciri dan karakter yang sangat beragam.

Beberapa nama yang masuk dalam angkatan ini diantaranya:


1. Ahmad Fuadi

2. Andrea Hirata

3. Ayu Utami

4. Cucuk Espe

5. Dewi Lestari

6. Habiburrah El Shirazy

7. Herlinatiens

8. Joko Pinurbo

9. Raudatul Tanjung Banua

10. Seno Gumira Ajidarma

11. Tere Liye

Dan masih banyak lagi nama lainnya.

Selain itu, ada beberapa peristiwa penting juga yang terjadi semasa angkatan 2000-an, yaitu:

1. Terbitnya jurnal cerpen (2002), oleh Joni Ariadinata, dkk.

2. Lomba sayembara menulis novel, Dewan Kesenian Jakarta (2003)

3. Festival seni Surabaya (2005)

4. Kongres cerpen yang dilaksanakan secara berkala 2 tahun sekali.

5. Cyber Sastra

Mengenai peristiwa Cyber Sastra adalah peristiwa baru yang kemudian menjadi hal biasa dilakukan hingga saat ini. Penyebab utama munculnya adalah teknologi yang berkembang, yaitu internet.

Bisa dibilang salah satu yang menjadi pelopor kemajuan ditingkat cyber sastra adalah Raditya Dika. Penulis fiksi yang terkenal dengan genre komedi itu telah memulai karir menulisnya dari dunia blogging. Hampir semua keseharian yang terjadi dalam hidupnya dia tulis pada blog miliknya. Yang kemudian menarik minat pembaca dari kalangan pengguna internet kala itu. Hingga kemudian dia memutuskan untuk membukukan semua tulisan yang dia tulis pada blognya.


Semoga pemaparan singkat mengenai “Periodisasi Sastra Indonesia” diatas bisa bermanfaat buat kita semua. Jika tulisan pada artikel ini punya banyak kekurangan mohon koreksinya. Dan jika memiliki kesamaan dengan artikel lain berarti memiliki sumber bacaan yang sama.

Jumat, 30 September 2016

SURAT TERBUKA PRAMOEDYA ANANTA TOER KEPADA KEITH FOULCHER



Surat Terbuka Pramoedya Ananta Toer kepada Keith Foulcher

Jakarta, 5 Maret 1985

Demi Demokrasi 2 (1985); an English translation is in Indonesia Reports, cultural and social supplement (August 1986)

Salam,

Surat 26 Februari 1985 saya terima kemarin, juga surat terbuka Achdiat K. Mihardja untuk teman-teman (sarjana) Australia yang dilampirkan. Terimakasih.

Lampiran itu memang mengagetkan, apalagi menyangkut-nyangkut diri saya, dan tetap dalam kesatuan semangat kaum manikebuis pada taraf sekarang: membela diri dan membela diri tanpa ada serangan sambil merintihkan kesakitannya masa lalu, yang sebenarnya lecet pun mereka tidak menderita sedikit pun. Total jendral dari semua yang dialami oleh kaum manikebuis dalam periode terganggu kesenangannya, belum lagi mengimbangi penganiayaan, penindasan, penghinaan, perampasan dan perampokan yang dialami oleh satu orang Pram. Setelah mereka berhasil ikut mendirikan rezim militer, dengan meminjam kata-kata dalam surat terbuka tsb.:

“All forgotten and forgiven” dan revisiannya: “We’ve forgiven but not forgotten.” Saya hanya bisa mengelus dada. Kemunafikan dan keangkuhan dalam paduan yang tepat, seimbang dengan kekecilan nyalinya dalam masa ketakutan. Dan Bung sendiri tahu, perkembangan sosial - budaya - politik disini - Indonesia, bukan semata-mata ulah perorangan, lebih banyak satu prosedur nasional dalam mendapatkan identitas nasional dan mengisi kemerdekaan. Tak seorang pun di antara para manikebuis pernah menyatakan simpati – jangan bayangkan protes – pada lawannya yang dibunuhi, kias atau pun harfiah. Sampai sekarang. Misalnya terhadap seniman nasional Trubus. Japo[?] Lampong. Apalagi seniman daerah yang tak masuk hitungan mereka. Di mana mereka sekarang. Di mana itu pengarang lagu Genjer-genjer? Soekarno mengatakan: Yo sanak, yo kadang, yen mati malu kelangan. Yang terjadi adalah – masih menggunakan suasana Jawa: tego larane, tego patine.

Masalah pokok pada waktu itu sederhana saja: perbenturan antara dua pendapat; revolusi sudah atau belum selesai. Yang lain-lain adalah masalah ikutan dari padanya. Saya sendiri berpendapat, memang belum selesai. Buktinya belum pernah muncul sejarah revolusi Indonesia. Karena memang belum ada distansi dengannya. Belum merupakan kebulatan yang selesai. Maka para sejarawan takut. Malah kata revolusi nasional cenderung dinamai dan dibatasi sebagai perang kemerdekaan.

Pertentangan manikebu dan pihak kami dulu tidak lain cuma soal polemik. Memang keras, tapi tak sampai membunuh, kan? Kan itu memang satu jalan untuk mendapatkan kebenaran umum, yang bisa diterima oleh umum? Bahwa pada waktu itu terjadi teror yang dilakukan oleh orang-orang Lekra sebagaimana dituduhkan sekarang, betul- betul saya belum bisa diyakinkan. Beb Vuyk dalam koran Belanda menuduh: teror telah dilakukan orang-orang Lekra terhadap beberapa orang, antaranya Bernard IJzerdraad. Waktu ia datang ke Indonesia dan menemuinya sendiri, IJzerdraad menjawab tidak pernah diteror. Dan Beb Vuyk tidak pernah mengkoreksi tulisannya. Beb Vuyk sendiri meninggalkan Indonesia setelah kegagalan pemberontakan PRRI - Permesta, kemudian minta kewarganegaraan Belanda.

Mungkin ia merasa begitu pentingnya bagi Indonesia sehingga dalam usianya yang sudah lanjut merasa berkepentingan untuk mendirikan kebohongan terutama untuk menyudutkan saya. pada hal dalam polemik-polemik tsb saya hanya menggunakan hak saya sebagai warga negara merdeka untuk menyatakan pendapat. Dan saya sadari hak saya. Seperti sering kali saya katakan: kewarganegaraan saya peroleh dengan pergulatan bukan hadiah gratis.

Dan apa sesungguhnya kudeta gagal G-30S/PKI itu? Saya sendiri tidak tahu. Sekitar tanggal 24, bulan lalu saya menerima fotokopi dari seorang wartawan politik Eropa dari Journal of Contemporary Asia, tanpa nomor dan tanpa tahun, berjudul: “Who’s Plot–New Light on the 1965 Events”, karangan W.F. Wertheim. Itulah untuk pertama kali saya baca uraian dari orang yang tak berpihak. Juga itu informasi pertama setelah 20 tahun belakangan ini. Rupa-rupanya karena ketidaktahuan saya itu saya harus dirampas dari segala-galanya selama 14 tahun 2 bulan + hampir 6 tahun tahanan kota (tanpa pernyataan legal), tanpa pernah melihat dewan hakim yang mendengarkan pembelaan saya. Memang sangat mahal harga kewarganegaraan yang harus saya bayar. Maka juga kewarganegaraan saya, saya pergunakan semaksimal mungkin. Itu pun masih ada saja orang yang tidak rela. Juga surat pada Bung ini saya tulis dengan menjunjung tinggi harga kewarganegaraan saya.

Sekarang akan saya tanggapi tulisan A.K.M. Ia tidak ada di Indonesia waktu meletus peristiwa 1965 itu. Tetapi saya sendiri mengalami. Saya akan ceritakan sejauh saya alami sendiri, untuk tidak membuat terlalu banyak kesalahan.

Pada 1 Oktober 1965 pagi hari saya dengar dari radio adanya gerakan Untung. Kemudian berita tentang susunan nama Dewan Revolusi. Sebelum itu pengumuman naik pangkat para prajurit yang ikut dalam gerakan Untung dan penurunan pangkat bagi mereka yang jadi perwira di atas letkol. Sudah pada waktu itu saya terheran-heran, kok belum-belum sudah mengurusi pangkat? Ini gerakan apa, oleh siapa?

Saya lebih banyak di rumah dari pada tidak. Kerja rutine ke luar rumah adalah dalam rangka menyiapkan Lentera dan mengajar pada Res Publika. Dan sangat kadang-kadang ke pabrik pensil di mana saya “diangkat” jadi “penasihat.”

Jadi di rumah itu saja saya “ketahui” beberapa hal yang terjadi dari suara-suara luar yang datang. Mula-mula datang Abdullah S.P., itu penantang Hamka, waktu itu baru saja bekerja di sebuah surat kabar Islam yang baru diterbitkan, dan yang sekarang saya lupa namanya. Ia mengatakan merasa tidak aman dan hendak mengungsi ke tempatku. Saya keberatan, karena memang tidak tahu situasi yang sesungguhnya. Seorang pegawai tatausaha Universitas Res Publika datang ke rumah menyerahkan honor, dan mengatakan Universitas ditutup karena keadaan tidak aman.

Ia menyerahkan honor lipat dari biasanya. Beberapa hari kemudian datang pegawai dari pabrik pensil, juga menyerahkan honor, juga lipat dari biasanya, karena pabrik terpaksa ditutup, keadaan gawat. Kemudian datang seorang teman yang memberitakan, rumah Aidit dibakar, demikian juga beberapa rumah lain. Ia juga memberitakan tentang cara massa bergerak. Mereka menyerang rumah tangga orang, kemudian datang para petugas berseragam yang tidak melindungi malah menangkap yang diserang. “Saya yakin Bung akan diperlakukan begitu juga,” katanya. “Soalnya apa dengan saya?” tanyaku. “Kesalahan bung, karena bung tokoh” ,“Itu saja? Tempatku di sini”, kataku akhirnya.
Seorang penjahit, yang pernah dibisiki larangan menjahitkan pakaian saya oleh tetangga anggota PNI – penjahit itu juga tetangga – menawarkan tempat aman pada saya nun di Brebes (kalau saya tidak salah ingat). Saya ucapkan terimakasih. Mengherankan betapa orang lain dapat melihat keamananku dalam ancaman. Seorang teman lain datang dan menganjurkan agar saya lari. Mengapa lari? tanya saya. Apa yang saya harus larikan? Diri saya? dan mengapa?

Kemudian datang seorang pengarang termuda yang saya kenal. Biasanya ia langsung masuk ke belakang dan membuka sendiri lemari makan. Ia tidak mengulangi kebiasaannya. Tingkahnya menimbulkan kecurigaan. Saya masih ingat kata-kata yang saya ucapkan kepadanya: saya seorang diri dari dulu, kalau pengeroyok memang hendak datangi saya akan saya hadapi seorang diri; tempat saya di sini.

Keadaan makin lama makin gawat. Isteri saya baru dua bulan melahirkan. Adalah tepat bila ia dan anak-anak untuk sementara menginap di rumah mertua. Papan nama saya, dari batu marmer, bertahun-tahun hanya tergeletak, sengaja saya pasang di tembok depan dengan lebih dahulu memahat tembok. Sebagai pernyataan: saya di sini, jangan nyasar ke alamat yang salah.

Di tempat lain isteri kedua mertua saya mengadakan selamatan untuk keselamatan saya. Sementara itu saya tetap tinggal di rumah menyiapkan ensiklopedi sastra Indonesia. Dalam keadaan lelah saya saya beralih mempelajari Hadits Bukhori. di malam hari semua lampu saya padamkan dan saya duduk seorang diri di beranda. Teman saya hanya seorang, adik saya yang pulang ke Indonesia untuk menyiapkan disertasinya, Koesalah Soebagyo Toer.

Kemudian datang tanggal 13 Oktober 1965 jam 23.00. Tahu-tahu rumah saya sudah dikepung. Lampu pagar dari 200 watt – waktu tegangan hanya 110, namun dapat dianggap terlalu mewah untuk kehidupan kampung – saya nyalakan. Di depan pintu saya lihat orang lari menghindari cahaya. Mukanya bertopeng. Tangannya membawa pikar. Malam-malam, dengan topeng pula, langsung terpikir oleh saya, barang itu tentu habis dirampoknya dari rumah yang habis diserbu. Saya tahu itu pikiran jahat. apa boleh buat karena suara-suara gencar memberitakan ke rumah, pihak militer mengangkuti anak-anak sekolah ke atas truk dan disuruh berteriak-teriak menentang Soekarno. Saya tidak pernah melihat sendiri. Saya percaya, karena pelda (atau peltu?) yang tinggal di depan rumah saya, sudah dua malam berturut-turut bicara keras di gang depan rumah, bahwa militer punya politik sendiri, Soekarno sudah tidak ada artinya. Konon ia bekas KNIL. Malah pada malam kedua ia buka mulut keras-keras sambil mondar-mandir, dan saya merasa itu ditujukan pada saya, rokok kretek saya cabut dari bibir dan saya lemparkan padanya. Terdengar ia melompat sambil memekik.

Jadi kalau saya punya pikiran jahat seperti itu bukan tidak pada tempatnya. Nah, setiap lampu pagar saya matikan, muncul gerombolan di depan pintu. Bila saya nyalakan lagi mereka lari. Jelas mereka muka-muka yang saya telah kenal. Tak lama kemudian batu-batu kali tetangga samping, yang dipersiapkan untuk membangun rumah, berlayangan ke rumah saya. Itu tidak mungkin dilemparkan oleh tenaga satu orang. Paling tidak dua orang dengan jalan membandulnya dengan sarung atau dengan lainnya. Kalau anak-anak saya masih di rumah, terutama bayi 2 bulan itu, saya tak dapat bayangkan apa yang bakal terjadi. Batu besar berjatuhan di dalam rumah menerobosi genteng dan langit-langit. Jadi benar-benar orang menghendaki kematian saya. Saya ambil tongkat pengepel dari kayu keras, juga mempersenjatai diri dengan samurai kecil (pemberian Joebaar Ajoeb sekembalinya dari Jepang). Ini hari terakhir saya, di sini, di tempat saya. Saya tahu, takkan mungkin dapat melawan satu gerombolan, tapi saya toh harus membela diri? Jalan kedua untuk bertahan adalah memberi gerombolan itu sesuatu yang mereka ingat seumur hidup: kata-kata yang lebih ampuh dari senjata.

Dengan suara cukup keras saya memekik: “Ini yang kalian namai berjuang? Kalau hanya berjuang aku pun berjuang sejak muda. Tapi bukan begini caranya. Datang ke sini pemimpin kalian! Berjuang macam apa begini ini?”

Ingar-bingar terhenti. Juga lemparan batu. Tiba-tiba sebongkah besar batu kali menyambar paha saya dan melesat mengenai pintu depan yang sekaligus hancur. Lemparan batu menjadi hebat kembali. Lampu pagar sengaja dihancurkan dengan lemparan juga.
 
Saya dengar suara: Mana minyaknya. Sini, bakar saja. Tetapi saya dengar juga suara orang tua tetangga sebelah kiri saya, seorang dukun cinta: jangan, jangan dibakar, nanti rumah saya ikut terbakar. Tak lama kemudian terdengar suara lagi: jangan lewat di tanah saya. Waktu saya lihat ke dalam rumah adik saya sudah tidak ada. Rupanya ia meloloskan diri dari pintu pagar belakang dan langsung memasuki tanah sang dukun cinta.

Dan betul saja kata teman itu: kemudian datang orang-orang berseragam. Metode kerja yang kelak akan terus-menerus dapat dilihat. Mereka terdiri dari polisi dan militer. Saya belum lagi sempat menggunakan tongkat dan samurai saya, mereka belum lagi memasuki pekarangan rumah saya.

Komandan militer operasi dan gerombolannya saya bukakan pintu. Mereka masuk dan langsung menyalahkan saya: sia- sia melawan rakyat. Kontan saya jawab: Gerombolan, bukan rakyat.

Setelah mereka memeriksa seluruh rumah ia bilang lagi: Siapkan, pak mari kami amankan, segera pergi dari sini. Saya berteriak memanggil adik saya. Dia muncul, entah dari mana. Dijanjikan akan diamankan, saya siapkan naskah saya Gadis Pantai untuk diselesaikan dan mesin tulis. Pada seorang polisi dalam team itu saya bertanya: kenal saya? Kenal, pak. Tolong selamatkan semua kertas dan perpustakaan saya. di situ adalah perkerjaan Bung Karno (waktu itu saya belum sampai selesai menghimpun cerpen-cerpen Bung Karno, dan korespondensi Soekarno - Sartono - Thamrin masih belum memadai untuk diterbitkan). Dia berjanji untuk menyelamatkan.

Mereka giring kami berdua melalui gang. Gerombolan itu berjalan mengepung di samping dan belakang. Ada yang membawa tombak, keris, golok, belati. Benar, alat negara itu tidak menangkap gerombolan penyerbu, malah menangkap yang diserbu. Dan sebanyak itu dikerahkan untuk menumpas satu - dua orang. Hebat benar membikin momentum qua perjuangan. 

Sampai di sebuah lapangan gang jurusan belakang rumah, sebelum dinaikkan ke atas Nissan mereka ikat tanganku ke belakang dan menyangkutkan ke leher, sehingga rontaan pada tangan akan menjerat leher. Tali mati. Bukan simpul mati yang diajarkan di kepanduan. Tali mati. Macam ikatan yang dipergunakan untuk tangkapan yang akan dibunuh semasa revolusi dulu. Tentu saja saya menyesal akan mati dalam keadaan seperti ini. Lebih indah bila dengan bertarung di atas tanah tempat saya tinggal. Melewati jembatan depan rumah sakit umum pusat Koptu Sulaiman menghantamkan gagang besi stennya pada mataku. Cepat saya palingkan kepala dan besi segitiga itu tak berhasil mencopot bola mata tetapi meretakkan tulang pipi. Saya memahami kemarahannya, bukan padaku sebenarnya, tapi pada atasannya, karena tak boleh ikut memasuki rumah saya. Mereka bawa kami ke Kostrad, kalau saya tidak keliru. Yang sedang piket adalah seorang Letkol. Kami diturunkan di situ, dan pada perwira itu saya minta agar kertas dokumentasi dan perpustakaan diselamatkan.

Kalau Pemerintah memang menghendaki agar diambil, tapi jangan dirusak. Ia menyanggupi. Dari situ kami dibawa memasuki sebuah kompleks perumahan yang saya tak tahu kompleks apa. Dari jendela nampak puncak emas Monas. Kemudian saya dapat mengenali rumah itu; hanya masuknya tidak berkelok kelok melalui kompleks, tetapi langsung dari jalan raya, karena pada 1955 di ruang yang sama saya pernah menemui Erwin Baharuddin, bekas sesama tahanan Belanda di penjara Bukitduri.

Piket mengambil semua yang saya bawa di tangan, naskah dan mesin tulis, juga samurai yang tersisipkan dalam kaos kaki. Waktu ia tinggal seorang diri rolex saya dikembalikan, berpesan supaya jangan kelihatan, sembunyikan baik-baik. kami dipersilakan ke sebuah ruangan tempat di mana sudah menggeloyor di lantai beberapa orang. Seorang adalah Daryono dari suatu SB (entah SB apa) dan seorang perjaka jangkung tetangga sendiri. Piket yang mengembalikan jam tangan itu memasuki ruangan tempat kami tergolek di lantai. Di sebuah papan tulis besar tertulis dengan kapur: Ganyang PKI. Ia pergi ke situ dan menghapus tulisan itu sambil berguman: apa saja ini!

Seorang bocah berpangkat kopral, bermuka manis, menghampiri dan menanyai ini - itu. Saya tanyakan apa pangkatnya. Ia menjawab dengan pukulan dan tempeleng, kemudian pergi. Kurang lebih dua jam kemudian saya lihat Nissan patrol datang dan menurun-nurunkan barang. Beberapa contoh ditaruh di atas meja di ruangan tempat kami menggeletak di lantai. Saya kenal benda-benda itu: kartotik file saya sendiri, dokumentasi potret sejarah, malah juga klise timah yang saya siapkan untuk saya pergunakan dalam jangka panjang. Saya jadi mengerti perpustakaan dan dokumentasi saya, jerih-payah selama lima belas tahun telah dibongkar, 5.000 jilid buku dan beberapa ton koleksi surat kabar. Angka-angka itu saya dapatkan dari sarjana perpustakaan yang sekitar dua tahun membantu saya.

Tangkapan-tangkapan baru terus berdatangan. Ada yang sudah tak bisa jalan dan dilemparkan ke lantai. Kemudian datang tangkapan yang langsung mengenali saya.

Ia bertanya mengapa saya berlumuran darah. Baru waktu itu saya sadar kemejaku belang-bonteng kena darah sendiri, demikian juga celana, yang rupanya teriris batu kali yang dilemparkan. Dialah yang bercerita, semua kertas saya diangkuti militer. Massa menyerbu dan merampok apa saja yang ada, sampai-sampai mangga yang sedang sarat berbuah digoncang buahnya. Tak ada satu cangkir atau piring tersisa. Rumah bung tinggal jadi bolongan kosong blong.

Jangan dikira ada perasaan dendam pada saya; tidak. Justru yang teringat adalah satu kalimat dari Njoto, yang A.K.M. juga kenal: Tingkat budaya dan peradaban angkatan perang kita cukup rendah, memprihatinkan, kita perlu meningkatkannya. Saya juga teringat pada kata-kata lain lagi: Kalau kau mendapatkan kebiadaban, jangan beri kebiadaban balik, kalau mampu, beri dia keadilan sebagai belasan. Dalam tahanan di RTM tahun 1960 saya mendapatkan kata baru dari dunia kriminal: brengsek. Sekarang saya dapat kata baru pula: di-aman-kan, yang berarti: dianiaya, sama sekali tidak punya sangkut-paut dengan aman dan keamanan. Sebelum itu saya punya patokan cadangan bila orang bicara denganku: ambil paling banyak 50% dari omongannya sebagai benar. Sekarang saya mendapatkan tambahan patokan: Kalau yang berkuasa bilang A, itu berarti minus A. Apa boleh buat, pengalaman yang mengajarkan.

Di antara orang kesakitan di kiri dan kanan saya, di mana orang tidak bisa dan tidak boleh ditolong, terbayang kembali wartawan Afrika – saya sudah tidak ingat dari Mali, Ghana atau Pantai Gading  – yang waktu naik mobil pertanyakan: Apa Nasakom itu mungkin? Apa itu bukan utopi?

Saya jawab: di Indonesia diperlukan suatu jalan. Setiap waktu bom waktu kolonial bisa meletus. Itu kami tidak kehendaki. Nampaknya Nasakom sebagai kenyataan masih dalam pembinaan. Dia bilang: Kalau Nasakom gagal? Bukankah itu berarti punahnya pemerintah sipil, karena Nasakom tersapu? Jawabku: Kami hanya bisa berusaha. Dia bilang lagi: Kalau Nasakom disapu, tidak akan lagi ada kekuatan nasionalis, agama maupun komunis! Dialog selanjutnya saya sudah tak ingat.

Pagi itu diawali kedatangan serombongan wartawan Antara, tanpa sepatu, semua lututnya berdarah. Di antaranya paman saya sendiri, R. Moedigdo, yang saya tumpangi hampir 3,5 tahun semasa pendudukan Jepang. Dia pun tak terkecuali. Kemudian saya dengar, mereka baru datang dari tangsi CPM Guntur dan habis dipaksa merangkak di atas kerikil jalanan. Menyusul datang power. Orang- orang militer melempar-lemparkan tangkapan baru itu dari atas geladak dan terbanting ke tanah. Ruangan telah penuh - sesak dengan tangkapan baru, sampai di gang-gang. Itu berarti semakin banyak erangan dan rintihan. Di antaranya terdapat sejumlah wanita. Sedang gaung dari pers yang menyokong militer sudah sejak belum ditangkap, tak henti- hentinya menalu gendang untuk membangkitkan emosi rakyat terhadap PKI dan organisasi massanya: Gerwani di Lubang Buaya memotongi kemaluan para jendral dan melakukan tarian cabul dan semacamnya, tipikal buah pikiran orang yang tak pernah mempunyai cita-cita. Bulu kuduk berdiri bukan karena tak pernah menduga orang Indonesia bisa membuat kreasi begitu kejinya.

Kemudian datang waktu pemeriksaan. Saya dibawa ke ruang pemeriksaan, yang sepanjang jam, siang dan malam diisi oleh raungan dan pekikan. Juga dari mulut wanita. Memang ruang yang saya masuki waktu itu tidak seriuh biasanya. Alat-alat penyetrum tidak dikerahkan. Di pojokan seorang KKO bertampang Arab, hitam, tinggi dan langsing, dingan kaki bersepatu bot menginjak kaki telanjang yang diperiksanya. Dan di antara jari-jemari pemuda malang itu disisipi batang pensil dan tangan itu kemudian diremas si pemeriksa sambil tersenyum dan bertanya: Ada apa? Ada apa kok memekik? Di samping pemuda itu adalah saya, diperiksa oleh seorang letnan (atau kapten?) bernama Nusirwan Adil.

Di luar dugaan pemeriksaan terhadap saya tidak disertai penganiayaan seperti dideritakan pemuda malang di samping kiri saya. Pemeriksa itu tenang dan sopan, dan mungkin cukup terpelajar dan beradab. Ia memulai dengan pertanyaan mengapa saya berdarah-darah.

Jawab: terjatuh.

Tapi itu bukan termasuk dalam acara pemeriksaan.
Pertanyaan: Bagaimana pendapat tentang gerakan Untung?
Jawab: tidak tahu sesuatu tentangnya.
Pertanyaan: Apa membenarkan gerakan itu?
Jawab: Kalau mendapat kesempatan mempelajari kenyataan-kenyataannya yang authentik mungkin dalam lima tahun sesudahnya saya akan bisa menjawab pertanyaan itu.
Sebelum meneruskan tentang pemeriksaan ini saya sisipkan dulu beberapa hal sebelum penangkapan saya.

Pertama: sejak semula saya sependapat bahwa gerakan Untung, yang kemudian dinamai G-30S/PKI, adalah gerakan dalam tubuh angkatan darat sendiri. Pendapat itu tetap bertahan sampai sekarang, juga sebelum membaca tulisan Wertheim dalam Journal of Contemporary Asia. Berita-berita pengejaran dan pembunuhan semakin hari semakin banyak dan menekan.

Kedua: seorang perwira intel pernah datang berkunjung khusus untuk menyampaikan, bahwa militer akan memainkan peranan kucing terhadap PKI sebagai tikus.

Tiga: dua mahasiswa UI telah dilynch di jalanan raya yang baru dibangun, masih lengang, di sekitar kampus.

Keempat: pemeriksaan terhadap para tangkapan berkisar pada dua hal, pertama keterlibatan dalam peristiwa Lubang Buaya, kedua keanggotaan Pemuda Rakyat dan PKI.

Kelima: beberapa hari sebelum penangkapan seorang pegawai Balai Pustaka mengumumkan dalam harian Api Pancasila di Jakarta, bahwa saya adalah tokoh Pemuda Rakyat. Karena sebagai pelapor ia menyebutkan diri pegawai Balai Pustaka, jadi saya datang menemui direktur Balai Pustaka – waktu itu Hutasuhut, kalau saya tidak salah ingat – dan mengajukan protes karena Balai Pustaka dipergunakan sebagai benteng untuk menyebarkan informasi yang salah tentang saya. Direktur Balai Pustaka menolak protes saya. Pegawai yang menulis itu tinggal beberapa puluh langkah dari rumah saya. Dalam peristiwa plagiat Hamka ia pernah mengirimkan surat pembelaan untuk Hamka dan hanya sebagian daripadanya saya umumkan.

Dan memang ruangan rumah saya pernah dipinjam untuk pendirian ranting Pemuda Rakyat. Tetapi itu bukan satu-satunya. Kalau sore ruangan belakang juga menjadi tempat taman kanak-kanak (reportase tentangnya pernah ditulis oleh Valentin Ostrovsky, kalau saya tidak meleset mengingat). Setiap Kamis malam ruangan depan dipergunakan untuk tempat diskusi Grup diskusi Simpat Sembilan. Setiap pertemuan didahului dengan pemberitahuan pada kelurahan. Jadi tidak ada sesuatu yang dapat dituduhkan illegal.

Keenam: seseorang menyampaikan pada saya, mungkin juga pada sejumlah orang lagi, kalau diperiksa andakan anggota PKI atau ormasnya, akui saja “ya” – tidak peduli benar atau tidak; soalnya mereka tidak segan-segan membikin orang jadi invalid seumur hidup untuk menjadi tidak berguna bagi dirinya sendiri pun untuk sisa umurnya selanjutnya. Dan, tidak semua orang tsb, dapat saya sebut namanya, karena memang tidak mampu mengingat–hampir 20 tahun telah liwat. Jadi waktu pemeriksa menanyakan apakah saya anggota PKI, saya jawab ya.


Pertanyaan: Apakah percaya negara ini akan jadi negara komunis?

Jawab: Tidak dalam 40 tahun ini.

Sebabnya?

Faktor geografi dan konservativitas Indonesia.

Cuma itu sesungguhnya isi pemeriksaan pokok. Tetapi karena selama dalam penahanan itu harian Duta Masyarakat memberitakan reportase tentang penyerbuan gerombolan itu ke rumah saya dan rumah S. Rukiah Kertapati, di mana disebutkan di rumah saya ditemukan buku-buku curian dari musium pusat dan di rumah Rukiah setumpuk permata, jadi pemeriksaan berpusat pada soal pencurian tsb. Memang saya pernah meminjam satu beca majalah, harian dan buku dari musium pusat. Yang belum saya kembalikan adalah Door Duisternis to Licht Kartini dan harian Medan Prijaji tahun 1911 dan 1912. Kalau arsip itu tersusun baik, akan bisa ditemukan, bahwa sumbangan saya ada 10 kali lebih banyak dari pada yang masih saya pinjam.

Dengan demikian pemeriksaan selesai. Benar-tidaknya omongan saya ini dapat dicek pada proces verbal, sekiranya masih tersimpan baik pada instansi yang berwenang. Bila ada selisih, soalnya karena waktunya sudah terlalu lama.
 
Mungkin Bung bertanya dari mana saya tahu ada berita dalam Duta Masyarakat yang menuduh saya mencuri. Ya, pada suatu pagi muncul seorang kapten di ruang tempat serombongan tahanan. Ia langsung mengenali saya, sebaliknya saya mengenal dia sebagai sersan di RTM tahun 1960. Ia bertubuh tinggi, berkulit langsat dan bibir atasnya suwing. Saya tak dapat mengingat namanya. Suatu malam ia kunjungi aku di kamar kapal selam (sel isolasi) di RTM itu. Banyak mengobrol, antara lain ia bercerita pernah ikut pasukan merah dalam Peristiwa Madiun. Pagi itu ternyata ia berpangkat kapten. Langsung ia bertanya di mana Sjam. Itu untuk pertama kali saya dengar nama itu. Tapi ia segera membatalkan pertanyaanya dengan kata-kata: Ah, Pak Pram sastrawan, tentu tidak tahu siapa dia. Ramahnya luar biasa, bawahannya diperintahkannya untuk mengambilkan kopi dan menyediakan veldbed untuk saya. Dan hanya perintah pertama yang dilaksanakan. Setelah ia pergi seorang sersan gemuk yang terkenal galak, dari Sulawesi, kalau tak salah ingat, juga seorang haji, memanggil saya dengan ramahnya dan menyuruh saya membaca Duta Masyarakat itu.

Nah Bung, setelah pemeriksaan satu rombongan dikirim ke CPM Guntur. Sebelum pergi saya minta pada Nusyirwan Adil untuk membebaskan adik saya, karena baru saja datang ke Indonesia untuk menyiapkan disertasinya. Ia luluskan permintaan saya, diketikkan surat pembebasan. Sebelum pergi ia saya titipi jam tangan saya, untuk dipergunakan belanja istri saya.

Di Guntur hanya untuk didaftar dan dirampas apa yang ada dalam kantong para tangkapan. Sepatu sampai sikat gigi dan ikat pinggang. Waktu itu baru saya sadari di dalam kantong saya masih tersimpan honorarium dari Res Publika dan pabrik pensil. Semua dirampas dengan alasan: nanti dalam tahanan agar tidak dicuri temannya.

Dari guntur kami dibawa ke Salemba. Tangan tetap di atas tengkuk dan tubuh harus tertekuk, tidak boleh berdiri tegak, setinggi para penangkap. Dalam pelataran-pelataran penjara itu nama dibaca satu-persatu oleh seorang militer. Waktu sampai pada giliran saya ia berhenti dan berseru: Lho, Pak Pram, di sini ketemu lagi? Peltu (atau pelda) itu adalah pengawal bersepeda motor yang mengawal sebuah sedan biru tua dalam bulan November 1960 dari Peperti Pegangsaan ke RTM Jl. Budi Utomo. Dalam sedan itu saya, setelah diminta “diwawancarai” oleh Sudharmono, mayor BC Hk. Dan peltu atau pelda di depanku Oktober 1965 itu adalah Rompis.

Sejak itu berkelanjutan perampasan hak-hak kewarganegaraan dan hak-hak sipil saya selama hampir 20 tahun ini. Dan Bung Keith, tidak satu orang pun dari kaum manikebuis itu terkena lecet, tidak kehilangan satu lembar kertas pun. Sampai sekarang pun mereka masih tetap hidup dalam andaian, sekiranya kaum kiri menang.

Dari menara andaian itu mereka menghalalkan segala: perampasan, penganiayaan, penghinaan, pembunuhan. Tetap hidup dalam kulit telur keamanan dan kebersihan, suci, anak baik-baik para orangtua, dan anak emas dewa kemenangan. Paling tidak sepuluh tahun lamanya saya melakukan kerja paksa, mereka satu jam pun tidak

pernah. Nampaknya mereka masih tidak rela melihat saya hidup keluar dari kesuraman. Waktu saya baru pulang dari Buru, banyak di antaranya yang memperlihatkan sikap manis. Bukan main. Tetapi setelah saya menerbitkan BM, wah, kembali muncul keberingasan.

Tentang A.K.M. sendiri pertama kali saya mengenalnya pada tahun 1946, di sebuah hotel di Garut. Ia tidak mengenal saya. Waktu itu saya sedang dalam sebuah missi militer. Ia datang ke hotel itu dan ngomong-ngomong dengan pemiliknya. Namanya tetap teringat, karena waktu itu ia redaktur majalah Gelombang Zaman yang terbit di Garut.

Pertemuan kedua ialah di Balai Pustaka, waktu ia masih jadi pegawai Balai Pustaka yang dikuasai oleh kekuasaan pendudukan Belanda. Setelah penyerahan kedaulatan ia jadi sep saya dalam kantor yang sama – ya saya sebagai pegawai negeri dengan pengalaman semasa revolusi sama sekali tidak diakui, karena semua pegawainya bekas pegawai kekuasaan Belanda. Sewaktu ia hidup aman di Australia, ternyata ia masih dalam hidup dalam andaian, dan sebagaimana yang lain- lain tetap membiakkan pengalaman kecil-mengecil semasa Soekarno untuk jadi gabus apung dalam menyudutkan orang-orang semacam saya. Titik tolaknya tetap andaian. Semua tidak ada yang mencoba menghadapi saya secara berdepan, dari dulu sampai detik saya menulis ini.

Dalam pada itu yang dirampas dari saya sampai detik ini belum dikembalikan. Rumah saya diduduki oleh militer, dari sejak berpangkat kapten sampai mayor atau letkol, bahkan bagian belakang disewakan pada orang lain. Itu pun hanya rumah kampung, namun punya nilai spiritual bagi keluarga dan saya sendiri. Barangkali ada gunanya saya ceritakan.

Saya mendirikannya pada tahun 1958 bulan-bulan tua. pajak Honoraria seorang pengarang adalah 15 persen, langsung dipotong oleh penerbit. Waktu saya menyiarkan protes tentang tingginya pajak yang 15 persen, tidak lebih dari seminggu kemudian perdana menteri Djuanda menaikkannya jadi 20 persen, sama dengan pajak lotre. Maka juga pendirian rumah itu melalui ancang-ancang panjang. Kumpul-kumpul dulu kayu dari meter kubik pertama hingga sampai sepuluh dst. Saya merencanakan rumah berdinding bambu sesuai dengan kekuatan. Sepeda motor saya, BSA 500cc.–sepeda motor militer sebenarnya – juga dikurbankan. Tiba-tiba mertua lelaki datang dan mengecam: mengapa mesti bambu? Itu terlalu mahal biayanya. Menyusul perintah: tembok! Ternyata bukan asal perintah. Ia tinggalkan pada saya dua puluh ribu rupiah. Kalau sudah ada, kembalikan, katanya lagi. Maka jadilah rumah tembok yang terbagus di seluruh gang. 

Ternyata tidak sampai di situ ceritanya. Rekan-rekan yang tidak bisa mengerti, seorang pengarang bisa mendirikan rumah, mulai dengan desas-desusnya. Satu pihak mengatakan, saya telah kena sogok Rusia. ada yang mengatakan RRT. Teman-teman yang dekat mengatakan saya telah kena sogok Amerika. Orang tetap tidak percaya seorang pengarang bisa membangun rumah sendiri. Mereka lupa, dalam Bukan Pasar Malam telah saya janjikan pada ayah saya untuk memperbaiki rumah, dalam tahun pertama saya keluar dari penjara Belanda. yang saya lakukan lebih dari pada apa yang saya janjikan, saya bangun baru, dan pada masanya adalah rumah terbagus di seluruh kompleks, sekali pun hanya berdinding kayu jati. (Sekarang memang jati lebih mahal dari tembok).

Kami sempat meninggali rumah kampung itu hanya sampai tahun 1965 atau 7 tahun. Orang yang tidak berhak justru selama hampir 20 tahun. Iseng-iseng pernah saya tanyakan; jawabnya seenaknya: apa bisa membuktikan rumah itu bukan pemberian partai? Habis sampai di situ. Pada yang lain mendapat jawaban: jual saja rumah itu, separohnya berikan pada penghuninya. Dan saya bilang: saya tidak ada prasangka orang yang menghuni rumah saya itu dari golongan pelacur. Walhasil sampai sekarang tetap begitu saja.

Baik, kaum manikebuis masih belum puas dengan segala yang saya alami. Saya sama sekali tidak punya sedikitpun perasaan dendam. Setiap dan semua pengalaman indrawi mau pun jiwai, bukan hanya sekedar modal, malah menjadi fondasi bagi seorang pengarang.

Apa yang dialamai A.K.M. semasa Soekarno masih belum apa-apa dibandingkan yang saya alami. Peristiwa Kemayoran? Pada 1958 sepulang dari Konferensi Pengarang A-A di Tasykent lewat Tiongkok saya tidak diperkenankan lewat Hongkong dan terpaksa lewat Mandalay, Burma. Artinya, dengan kesulitan tak terduga. Sampai di Rangoon pihak Kedutaan RI tidak mau membantu memecahkan kesulitan saya. Apa boleh buat, tidak ada jalan bagi saya dari pada mengancamkan memanggil para wartawan Rangoon dan Jawatan Imigrasi Burma, memberikan pernyataan, bahwa ada kedutaan yang tak mau mengurus warganegaranya yang terdampar. Mereka terpaksa mengurus saya sampai tiba di Jakarta. Dari Rangoon kemudian datang surat yang menuntut macam-macam. Saya hanya menjawab dengan caci-maki dengan tembusan pada menteri luar negeri, waktu itu Dr. Subandrio. Saya harap surat itu masih tersimpan dalam arsip. Peristiwa itu terjadi berdekatan dengan hari saya menghadap Bung Karno untuk menyerahkan dokumen keputusan Konferensi di samping juga bingkisan dari Ketua Dewan Menteri Uzbekistan, Syaraf Rasyidov, kepadanya, disaksikan oleh beberapa orang, diantaranya Menteri Hanafi. Tak terduga dalam pertemuan itu terjadi sedikit pertikaian dengan Bung Karno. Ia memberi saya suatu instruksi dan saya menolak, karena sebagai pengarang saya punya porsi kerja sendiri. Pertikaian ini kemudian melarut, yang saya anggap wajar, sampai akhirnya atas perintah Nasution saya ditahan di RTM, kemudian ke tempat lebih keras di Cipinang, karena menentang PP 10.

Hampir satu tahun dalam penjara, kemudian dilepaskan dalam satu rombongan dan dengan satu nafas dengan para pemberontak PRRI-Permesta sebagai hadiah terbebasnya Irian Barat. Pada hal tidak lebih dari 3 tahun sebelumnya Nasution itu-itu juga memberi saya surat penghargaan no. 0002 untuk bantuan pada angkatan perang dalam melawan PRRI di SumBar.

Penahanan 1960-61 itu merupakan pukulan pahit bagi saya. Bukan saya yang melakukan adalah kekuasaan Pemerintah saya sendiri. Juga sama sekali tidak ada setitik pun keadilan di dalamnya. Saya merasa hanya menuliskan apa yang saya anggap saya ketahui, dan berdasarkan padanya pendapat saya sendiri. Dengan nama jelas, lengkap. Alamat saya pun jelas, bukan seekor keong yang setiap waktu dapat memindahkan rumahnya. Saya membutuhkan pengadilan. Dan itu tidak diberikan kepada saya. Dalam isolasi ketat di Cipinang saya kirimkan surat pada Bung Karno melalui Ngadino, kemudian mengganti nama jadi Armunanto, kepala redaksi Bintang Timur dan anggota DPA. Surat itu bertujuan untuk mendapat hukuman yang justified, entah sebagai pengacau, entahlah sebagai penipu.

Setidak-tidaknya bukan yang seperti sekarang. Ia tidak meneruskannya, dengan alasan ada orang lain menyimpan tembusannya. Orang itu adalah H.B. Jassin. Saya yakin surat itu masih tersimpan.
Dapat Bung bandingkan, bahwa andaian kesulitan semasa Soekarno masih tidak berarti dengan kenyataan kesulitan yang saya sendiri alami.

Saya heran, bahwa di dalam halaman 2 A.K.M. menyatakan keheranannya mengapa namanya dicoret dari daftar pencalonan Front Nasional. Terasa lucu dan naif, selama ia sendiri tidak punya kekuasaan untuk menentukannya. Katanya Lekra membakari bukunya? Saya baru tahu dari halaman itu. Mungkin Boen S. Oemarjati yang berhak memberi penjelasan.

Di halaman 3 alinea pertama terdapat kisah yang mengagumkan tentang Taslim Ali. Saya sering datang ke tempatnya di gedung perusahaan Intrabu. Jadi dalam gambaran saya orang yang “selalu menterornya dengan meletakkan pestol di atas meja” -nya itu adalah saya. Pramoedya Ananta Toer. Soalnya surat Goenawan Muhammad tertanggal 28 November 1980 pada Sumartana mengatakan (hlm.3): “Achdiat pernah bercerita, bahwa Pram pernah datang ke Balai Pustaka dengan meletakkan pistol di meja.” Kapan itu terjadi? Pestol siapa? Siapa yang saya temui dan saya teror? Kiranya, kalau Goenawan tak berandai-andai, A.K.M. sendiri yang berhak menjawab. Dalam alam kemerdekaan nasional memang pernah saya bersenjata api. Suatu hari dalam 1958. Bukan pestol, tapi parabellum. Tempat: dalam sebuah jeep dalam perjalanan antara Bayah dengan Cikotok. Saksi: seorang letnan angkatan darat. Ia membutuhkan bantuan saya untuk menyelidiki benar-tidaknya ada boulyon-boulyon emas disembunyikan oleh Belanda sebelum meninggalkan Jawa pada 1942 di dasar tambang mas Cikotok, dengan kesimpulan, bahwa semua itu omong kosong belaka. Mengapa bersenjata? Karena sebelumnya sebuah kendaraan umum telah dicegat DI, dibakar. Dan bangkainya masih nongkrong di pinggir jalan. Sebagai pengarang saya masih lebih percaya kepada kekuatan kata daripada kekuatan peluru yang gaungnya hanya akan berlangsung sekian bagian dari menit, bahkan detik. Dan saya pun tidak pernah bisa diyakinkan ada orang datang untuk menteror Taslim Ali. Apa yang bisa didapatkan dari dia?. Sebaiknya A.K.M. menyebut jelas siapa nama penteror itu.

Di halaman 5 tulisan A.K.M. alinea terbawah ditulis bahwa: “di depan rumahnya saya sempat menyusukan selembar 10 ribu rupiah ke dalam kepalannya. Dia agaknya begitu terharu, sehingga nampak matanya basah tergenang,” dan “saya tahu Pram tentu butuh duit ketika itu.” Memang agak janggal menampilkan saya semacam itu. Pada waktu itu saya tidak dapat dikatakan dalam kesulitan keuangan. Segera setelah pulang dari Buru sejumlah bekas tahanan Buru datang pada saya minta dibantu memecahkan kesulitan mereka mencari penghidupan. Memang pihak gereja telah banyak membantu, dan saya menghormati dan menghargai jasanya pada mereka dengan tulus. Tetapi selama status dan namanya bantuan barang tentu tidak mencukupi kebutuhan apalagi untuk keluarganya. Jadi saya dirikan sebuah PT pemborong bangunan, sebuah usaha yang bisa menampung banyak tenaga. Pada waktu A.K.M. datang ke rumah telah 36 orang ditampung, sebagian berkeluarga. Tidak kurang dari 5 rumah dikerjakan, di antara 2 rumah mewah. Ada di antara mereka menumpang ada saya. Usaha ini telah dapat memberi hidup (terakhir) 60 orang dengan keluarganya. Tapi kesulitan itu? Beberapa kali datang intel, yang dengan lisan mengatakan, rumah saya jadi tempat berkumpul tapol.

Beberapa orang dari kantor kotapraja memberi ultimatum untuk menyediakan uang sekian ratus ribu dalam sekian hari. Seseorang datang dan mengibar-ngibarkan kartu identitasnya sebagai intel Hankam. Seorang datang mengaku sebagai pegawai sospol Depdag dengan tambahan keterangan, teman-temannya orang Batak banyak, dan orang tidak selamanya waspada. Tak akan saya katakan apa maksud kedatangan mereka. Itu yang datang dari luar. Kesulitan dari dalam pun tak kalah banyaknya. Teman-teman bekas tapol rata-rata sudah surut tenaganya karena tua. Mereka belum terbiasa dengan teknik baru pembangunan rumah sekarang.

Mereka tidak terbiasa dengan material baru dan pengerjaannya. Di samping itu kerja paksa berbelas tahun tanpa imbalan tanpa penghargaan, setiap hari terancam hukuman, telah berhasil merusakkan mental sebagian dari mereka. Dalam pekerjaan yang mereka hadapi mereka tidak berbekal ketrampilan vak. Sedang impian berbelas tahun dalam posisinya sebagai budak-budak Firaun adalah terlalu indah. Seorang yang di Buru mempunyai setia kawan begitu tinggi dan diangkat jadi kepala kerja, kemudian lari membawa uang, dan bukan sedikit. Seorang yang relatif masih muda, suatu malam datang dengan membawa truk dan mengangkuti material bangunan yang telah tersedia dan menjualnya di tempat lain dengan harga rendah untuk dirinya sendiri. Seorang lagi yang juga tergolong muda, sama sekali tanpa ketrampilan tukang, mendadak mengorganisasi pemogokan dengan tuntutan berlipat dari hasil kerjanya. Pick-up Luv Chevrolet, sumbangan teman-teman Savitri, dalam 3 bulan sudah berban gundul dan penyok-penyok.

Pukulan lain yang tak kurang menyulitkan datang. Memang sudah diselesaikan sekitar 8 rumah dengan keadaan seperti itu. Kemudian dua di antara yang dibangunkan rumahnya tidak mau melunasi kewajibannya, mengetahui kedudukan hukum kami lemah. Berkali-kali Savitri minta pertanggungjawaban atas bantuan teman-temannya yang diberikan. Saya tak mampu lakukan itu. Tidak lain dari saya sendiri yang akan merasa malu, dan semua harus saya telan sendiri. Akhirnya saya perintahkan pembubaran PT itu tanpa pernah memberikan pertanggungjawaban pada teman- teman Savitri.

Nah Bung, seperti itu situasi waktu terima selembar sepuluh ribu itu, yang sama sekali tidak pernah saya kira akan dipergunakan oleh A.K.M. untuk memperindah gambaran tentang dirinya. Semua kebaikan tidak akan sia-sia memang bila tidak berpamrih. Dengan pamrih pun tentu saja tidak mengapa, sejauh setiap tindak manusia yang sadar pasti mempunyai motif. Tetapi bila pemberian dipergunakan sebagai investasi, yang setiap waktu dikutip ribanya, sekalipun hanya riba moril, itu memang betul-betul investasi, bukan pemberian. Dan siapa di dunia ini tidak pernah menerima? Waktu saya baru datang dari Buru dan sejumlah orang yang datang hanya untuk bersumbang. Jumlahnya dari 60 sampai 100 ribu, di antaranya 3 mesin tulis, yang tiga-tiganya langsung diteruskan untuk tapol yang lebih memerlukan.

Demikian juga halnya dengan uang pemberian. Saya pribadi praktis tidak ada uang dalam kantong. Itu akan kelihatan bila berada di luar rumah. Di Buru pun ada sejumlah pemberi, dari lingkungan dalam dan luar tapol, dari satu sampai sepuluh ribu. Dalam keadaan sulit di Buru pun orang normal tidak bisa tinggal jadi penerima saja. Terutama pihak gereja Katholik pernah memberi keperluan tulis-menulis saya setiap bulan. Bahkan pernah saya terima 2 kali berturut satu kardus besar berisi kacamata, dan pakaian untuk saya pribadi. (Sampai sekarang saya simpan.) Maksud saya hanya untuk menerangkan, pada bangsa-bangsa terkebelakang, atau menurut redaksi baru bangsa-bangsa yang berkembang, memberi adalah keluarbiasaan dan menerima adalah kebiasaan yang perlu dinyatakan.
Jangan dikira saya menulis demikian dengan emosi. Tidak. Suatu dialog bagi saya tetap lebih menyenangkan daripada monolog. Setidak-tidaknya dialog adalah pencerminan jiwa demokratis. Tetapi ucapan all forgiven and forgotten atau we’ve forgiven but not forgotten, benar- benar produk megalomaniak yang disebabkan mendadak bisa melesat dari kompleks inferiornya, bukan karena kekuatan dalam, tapi luar dirinya.

Tentang Pancasila di hlm. 6, saya takkan banyak bicara kecuali menyarankan untuk membuka-buka kembali pers Indonesia semasa Soekarno, khususnya sekitar sebab mengapa presiden RI membubarkan konstituante itu. Golongan mana yang menolak dan mana yang menerima Pancasila sebelum dapat interpretasi atau pun revisi, formal ataupun non-formal.

Dalam hubungan ini saya teringat pada ucapan Nyoto, kalau tidak salah di alun-alun Klaten pada tahun 1964, bahwa nampak ada kecenderungan pada suatu golongan masyarakat (saya takkan mungkin mampu mereproduksi redaksinya) yang membaca kalimat-kalimat Pancasila menjadi: Satu, Ketuhanan yang Maha Esa; Dua, Ketuhanan yang Maha Esa; Tiga, Ketuhanan yang Maha Esa; Empat, Ketuhanan yang Maha Esa; dan Lima, Ketuhanan yang Maha Esa. Dia tidak dalam keadaan bergurau.

Selama 14 tahun dalam tahanan ucapan Nyoto bukan saja menjadi kebenaran, lebih dari itu. Dakwah-dakwah yang diberikan, atau lebih tepatnya dengan istilah orde baru santiaji, orang tidak menyinggung sila-sila lain sesudah sila pertama, kalau menyinggung pun hanya sekedar penyumbat botol kosong: beragama dan tidak beragama berarti sembahyang. Tidak bersembahyang berarti tidak pancasilais, bisa juga anti-pancasila. Ya, buntut panjang itu rupanya diperlukan untuk menterjemahkan alam pikiran formalis Pribumi Indonesia, tidak mampu membebaskan diri dari lambang-lambang, upacara, hari peringatan, pangkat dan tanda-tandanya – dan bagi suku Jawa cukup lengkap di dideretkan dalam sastra wayang.

Berdasarkan pengalaman sendiri saya dapat katakan: Revolusi Indonesia tidak digerakkan oleh Pancasila; ia digerakkan oleh patriotisme dan nasionalisme. Baru pada 1946 saya pernah mendapat tugas untuk memberi penerangan tentang Pancasila dan PBB kepada pasukan. Selanjutnya tetap tidak ada pertautan antara Pancasila dengan Revolusi.

Saya menghormati pandangan A.K.M. tentang Pancasila yang ia yakini, sekali pun dengan Pancasila itu juga orang-orang sejenis kami di-buru-kan sampai 10 tahun, dan A.K.M. tidak pernah melakukan sesuatu protes. Dan pertanyaan kemudian, apakah ia tetap berpandangan demikian – artinya tak perlu melaksanakannya dalam praktek – pada waktu kepentingan dan keselamatan jiwanya terancam? Bicara di lingkungan aman memang lebih mudah untuk siapapun, dan: tanpa pembuktian.

Dalam hubungan Pancasila dengan demokrasi barat di hlm. 7 sebagai pesan A.K.M. pada rekan-rekannya sarjana Australia saya mempunyai kisah.

Pada 1984, Mr. Moh. Roem terkena serangan jantung dan dirawat di RSCM. Seorang dokter menjemput saya, mengatakan, Pak Roem menginginkan kedatangan saya. Saya tak pernah mengkaji apakah itu keinginan Pak Roem atau ambisi si dokter itu saja. Langsung saya berangkat bersama dengannya. Di ruang itu Pak Roem tidur dalam keadaan masih dihubungkan pada alat pengontrol jantung. Penjemput saya langsung menemani perawat sehingga hanya kami berdua di situ tanpa saksi. Menghadapi orang dalam keadaan gawat tentu saja saya tidak bicara apa-apa. hanya beliau yang bicara sampai lelah, sebagai pertanda saya harus mengundurkan diri untuk menghemat tenaga yang beliau perlukan sendiri. Terlalu banyak yang disampaikannya pada saya untuk orang dalam keadaan gawat seperti itu. Satu hal yang berhubungan dengan Pancasila dan demokrasi Barat, dan beliau sebagai ahli hukum, adalah: 50 + 1? Ya, biar begitu perlu dipertimbangkan dengan adil, tidak seperti selama ini dinilai. Dalam sejarah kita telah dibuktikan, bahwa kesatuan Indonesia terwujud hanya karena demokrasi parlementer Barat.

Nah, Bung Keith, inti persoalan dengan kaum manikebu cukup jelas: saya menggunakan hak saya sebagai warganegara Indonesia, hak yang juga ada pada kaum manikebu. Omong kosong bila dikatakan pada waktu itu mereka tak punya media untuk menerbitkan sanggahan. Waktu sekarang, waktu secara formal hak sanggah melalui mass media tidak ada, saya tetap menyanggah dengan berbagai cara yang mungkin, kalau memang ada yang perlu disanggah. Sedang ucapan Pak Roem tsb, ternyata adalah pesan politik terakhir. Beberapa minggu kemudian beliau meninggal dunia.

Saya belum selesai. Masih ada satu hal yang perlu disampaikan, hanya di luar hubungan dengan surat terbuka Achdiat K. Mihardja.

Tak lama setelah pertemuan kita terakhir saya menerima surat dari M.L., yang intinya tepat suatu jawaban terhadap saya. Tentu saja saya mendapat kesan kuat, pembicaraan kita Bung teruskan padanya. Terima kasih, bahwa hal-hal yang tidak jelas sudah dibikin terang olehnya.

Untuk tidak keliru membikin estimate tentang saya dalam persoalan khusus ataupun umum ada manfaatnya saya sampaikan bahwa saya menyetujui kehidupan bipoler. Saya membenarkan adanya dua superpower, bukan saja sebagai kenyataan, juga sebagai pernyataan makro nurani politik ummat manusia. Kalau hanya ada satu superpower akibatnya seluruh dunia akan jadi bebeknya. Dua superpower mewakili kekuatan ya dan kekuatan tidak, kekuasaan dan opposisi. Dalam tingkat nasional saya menyetujui kehidupan bipoler. Ada kekuasaan ada opposisi. Kalau tidak, rakyat akan jadi bebek pengambang, dengan kepribadian tidak berkembang. Demokrasi dengan opposisi adalah juga pernyataan makro nurani politik nasional. Dia adalah juga pencerminan mikro nurani pribadi manusia, yang tindakannya ditentukan oleh ya atau tidak. Hewan dengan serba naluri tak memerlukan nurani. Ia tak mengenal ya ataupun tidak.

Semoga surat kelewat panjang ini – lebih tepat usaha pendokumentasian diri sendiri – ada manfaatnya. Saya tidak ada keberatan bila diperbanyak.

Salam pada semua yang saya kenal, juga pada M.L. dan Savitri yang pernah saya kecewakan.

Belakangan ini kesehatan saya agak membaik. Soalnya saya menggunakan ramuan tradisional yang ternyata mengagumkan. Dengan pengamatan melalui tes urine dengan benedict kadar gula yang positif dalam 24 jam dapat menjadi negatif, yang tidak dapat saya peroleh melalui sport dan kerja badan selama 2 minggu.

Salam hangat untuk Bung sendiri dan keluarga.

Tetap (tanda tangan).